Just another WordPress.com site

Definisi Riset

Beberapa referensi mengenai definisi riset adalah sebagai berikut :

Keputusan SA-ITB no.032/sk/k01-SA/2002
Penelitian (Riset)  adalah kegiatan eksplorasi untuk menggali ilmu dan pengetahuan baru yang dilakukan menurut
kaidah dan metodologi yang absah untuk memperoleh informasi, teori, model melalui eksperimen, ekspedisi,
proses penemuan (discovery & invention)

Hopkins WG (2002)
Research is all about addressing an issue or asking and answering a question or solving problem.
Riset adalah mengirimkan sebuah isu atau pertanyaan serta menjawab sebuah pertanyaan atau memecahkan
masalah.
Hopkins didalam definisi diatas memberikan key word mengenai apa yang dimaksud dengan Riset atau penelitian.
Ada dua kunci penting dalam sebuah riset yaitu memunculkan sebuah pertanyaan (addressing issue) dan
bagaimana menjawab dan memecahkan masalah tersebut (solving problem).

Burns (1994)
Research is a systematic investigation to find answers to a problem.
Riset adalah investigasi sistematik untuk menemukan jawaban dari sebuah permasalahan.
Burn mendefinisikan riset secara lebih sederhana, namun sangat mudah dipahami. Intinya adalah bagaimana
menjawab sebuah pertanyaan atau permasalahan yang ada dengan langkah-langkah yang sistematik.

Kerlinger (1986)
Scientific research is a systematic, controlled empirical and critical investigation of propositions about the presumed
relationship about various phenomena.
Riset ilmiah adalah sistematik, terkontontrol secara empiris dan investigasi kritis terhadap dalil mengenai dugaan
hubungan antar berbagai fenomena.
Kerlinger memberikan penekanan lebih, dalam definisinya diatas, yaitu harus ada faktor investigasi kritis. Ini artinya
seorang peneliti tidak harus yakin 100% terhadap investigasi yang telah dilakukan untuk menjawab permasalahan,
namun juga harus memberikan sedikit kritik atau keraguan terhadap hasil investigasinya, dengan harapan nantinya
peneliti akan mencari sumber-sumber lain sebagai bahan komparasi yang mendukung hasil investigasinya atau
dengan kata lain harus menggunakan sumber eksternal agar penelitiannya semakin valid dan mampu menjawab
permasalahan secara menyeluruh (holistic).

Kesimpulannya secara umum suatu riset dilakukan untuk menjawab pertanyaan , dengan memberlakukan kriteria
sebagai berikut :

1. Dilakukan dengan sebuah kerangka kerja
Kerangka kerja berkaitan dengan disiplin akademik dari pelaku riset dapat dinyatakan dalam dua kategori
paradigma – positivism dan naturalism. Setiap bidang ilmu memiliki kerangka acuan sendiri dalam melakukan
kegiatan riset. Kerangka kerja dan panduan tahapan itu akan menyediakan para periset, apa yang akan
melibatkan periset dalam risetnya, dari bagaimana riset itu dilaksanakan, dan tipe macam apa gangguan yang
akan mempengaruhi data yang dikumpulkan.

2. Menggunakan prosedur, metoda dan tehnik yang telah teruji dalam hal validitas dan reabilitas
Konsep validitas dapat di aplikasikan pada setiap aspek dari proses penelitian. Hal tersebut untuk meyakinkan
bahwa di dalam riset prosedur yang benar (correct) telah digunakan untuk menjawab suatu pertanyaan sebagai
titik tolak riset yang dilakukan.
Reliability merujuk pada kualitas dari prosedur pengukuran atau pengambilan data.
Unbiased dan objective memberikan pengertian bahwa setiap langkah yang diambil serta setiap konklusi yang
diambil / ditarik mencerminkan kemampuan terbaik dari periset tanpa mengikutsertakan tujuan pribadi / golongan
(vested interest) dari peneliti.

3. Dirancang agar tidak kabur (bias) dan objektif
Sedangkan subjectivity adalah bagian integral dari cara berfikir peneliti, yang terkondisi oleh latar belakang
pendidikannya, disiplin ilmunya, filosofinya, pengalaman serta ketrampilannya, jadi diperlukan keterkaitannya
dengan disiplin ilmu periset terhadap masalah apa yang diriset.
Bias dapat dinyatakan usaha untuk mempertimbangkan secara hati-hati baik dalam hal memberikan penekanan
(highlight) maupun tidak menonjolkan / menyembunyikan (conceal) sesuatu. Misal dari suatu potongan informasi,
maka cara pandang seorang psikolog akan lain tentunya dengan cara pandang sejarawan dsb.


Jadi, bila suatu kegiatan/proses untuk mencari jawaban pertanyaan memenuhi keempat kriterian tersebut diatas,
maka proses tersebut dapat dinyatakan sebagai riset (research).
Namun demikian, ada variasi terhadap satu disiplin keilmuan terhadap disiplin ilmu lainnya dan dengan demikian
pengertian riset adalah berbeda antara disiplin ilmu physical dan social science. Pada physical science, suatu

usaha riset diharapkan setiap langkahnya dapat secara ketat dikontrol , sementara untuk ilmu sosial, kontrol yang
kaku tidak mungkin dapat dipaksakan dan kadang malah tidak diperlukan dan terdapat subjektivitas.

Permasalahan sebagai inti riset
Pada dasarnya riset dapat dikatagorikan menjadi dua jenis:  basic research/penelitian dasar mengembangkan
suatu teori atau konsep dalam bidang tertentu dan applied research/penelitian terapan berkaitan dengan suatu
penerapan teori untuk mendapatkan perbandingan, hasil kinerja atau menghasilkan suatu produk yang membant
manusia.
Dalam kedua jenis riset tersebut, adalah penting untuk menentukan permasalahan yang akan dibahas dan
diselesaikan. Permasalahan tersebut biasanya berupa pertanyaaan yang jawabannya memberikan hal baru yang
berbeda dan permasalahan tersebut mengembangkan pengetahuan tentang sesuatu misalnya cara berpikir yang
baru tentang sesuatu, kemungkin baru dalam penerapan atau membuka jalan bagi penelitian selanjutnya.
Permasalahan untuk riset haruslah mengandung interpretasi data yang merupakan hasil pemikiran si peneliti
dalam mencari jawaban dari permasalahan dalam penelitiannya.
Permasalahan adalah pangkal (titik tolak) penelitian, tidak akan ada  riset kalau tidak ada masalah. Permasalaha
adala segala sesuatu yang dihadapi atau dirasakan oleh seseorang yang menimbulkan kebutuhan untuk dibahas
dan dicari jawabanya. Sumber permasalahan adalah sesuatu yang objektif, akan tetapi permasalahan selalu
bersifat subjektif. Kejadian yang sama dapat menimbulkan persoalan yang berbeda dalam diri pengamat yang
berbeda.
Bagan alir dibawah menggambarkan proses pembentukan, pengenalan dan penyelesaian persoalan. Proses
bersifat mundur, berarti kalai perlu tiap langkah dijalani berulang sampai diperoleh cara pemecahan yang dapt
diterima (notohadiprawiro 2006).

Ruang Lingkup Riset
Ruang lingkup sebuah riset secara umum dapat dibagi dalam tiga garis besar, sesuai dengan perpektifnya, yaitu :
1. Aplikasi dari riset
2. Objektif dari riset
3. Informasi yang dicari

Pengolahan data

Pengolahan Data
Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya, jika tidak diolah. Pengolahan data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah, karena  dengan pengolahan data, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecah- pecahkan dalam kelompok-kelompok, diadakan kategorisasi, dilakukan manipulasi serta diperas sedemikian rupa sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesa atau pertanyaan penelitian.

Mengadakan manipulasi terhadap data mentah berarti mengubah data mentah tersebut dari bentuk awalnya menjadi suatu bentuk yang dapat dengan mudah memperlihatkan hubungan-hubungan antara fenomena. Beberapa tingkatan kegiatan perlu dilakukan, antara lain memeriksa data mentah, sekali lagi, membuatnya dalam bentuk tabel yang berguna, baik secara manual ataupun dengan menggunakan komputer.

Setelah data disusun dalam kelompok-kelompok serta hubungan-hubungan yang terjadi dianalisa, perlu pula dibuat penafsiran-penafsiran terhadap hubungan antara fenomena yang terjadi dan membandingkannya dengan fenomena-fenomena lain di luar penelitian tersebut. Berdasarkan pengolahan data tersebut, perlu dianalisis dan dilakukan penarikan kesimpulan hasil penelitian.

Pengolahan data menurut George R. Terry,Phh adalah serangkaian operasi atau informasi yang diinginkan. Arti lain dari pengolahan data adalah suatu sistem yang akan mengolah masukan berupa bahan baku dan bahan-bahan yang lain menjadi keluaran berupa bahan jadi atau informasi.

Secara umum posisi pengolahan data dapat diilustrasikan pada gambar diatas, bahwa data yang tersimpan dalam gudang data untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat dari data tersebut, maka perlu dilakukan pengolahan data.

Untuk mendapatkan informasi yang akurat, tepat waktu dan relevan dapat diperoleh dari sistem pengolahan data. Dalam sistem pengolahan data terdapat perbedaan antara data dan informasi. Data adalah suatu bentuk informasi yang masih mentah dan belum dapat bercerita banyak, sehingga perlu diolah lebih lanjut, untuk dapat dijadikan sebagai bahan keterangan (informasi) dan mempunyai nilai bagi seseorang dalam mengambil suatu kesimpulan atau keputusan. Sedangkan informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang berguna dan lebih berarti bagi pengguna data.

Informasi juga menggambarkan suatu kejadian nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Sedangkan sumber dari informasi adalah data, yang berbentuk simbol atau huruf, angka, gambar dalam data dan diolah menjadi suatu model informasi dan membuat keputusan dan melakukan tindakan yang berarti bagi pengguna informasi.

Informasi dapat dibagi tiga makna pokok sebagai berikut :
1. Akurat
Berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bisa atau menyesatkan. Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya.
2. Tepat pada Waktunya
Informasi yang datang pada sipenerima tidak boleh terlambat, informasi yang usang tidak mempunyai nilai tinggi.
3. Relevan
Informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya.

Tahapan pengolahan dan Analisa Data

Menurut setiawan (2005) Secara umum tahapan pengolahan dan analisa data dapat di bagi menjadi beberapa tahapan yaitu :

1.Pengumpulan Data:

Sebelum  melakukan  pengolahan  data,  ada  bebarapa  tahap  yang  harus

dilakukan.  Sedangkan  setelah  analisis  data  yaitu  suatu  proses

penyederhanaan data, maka dapat dilakukan interpretasi data dengan mudah.

Kuesioner merupakan alat pengumpul data yang digunakan untuk survai, guna

memudahkan  proses  selanjutnya,  sebaiknya  dalam  kuesioner  telah  tersedia

kolom untuk koding.

2. Editing Data:

Data  lapangan  yang  ada  dalam  kuesioner  perlu  diedit,  tujuan  dilakukannya

editing  adalah  untuk:  (1)  Melihat  lengkap  tidaknya  pengisian  kuesioner.  (2)

Melihat logis tidaknya jawaban. (3) Melihat konsistensi antar pertanyaan.

3. Koding Data:

Dilakukan  untuk  pertanyaan-pertanyaan:  (1)  Tertutup,  bisa  dilakukan

pengkodean  sebelum  ke  lapangan.  (2)  Setengah  terbuka,  pengkodean

sebelum  dan  setelah  dari  lapangan.  (3)  Terbuka,  pengkodean  sepenuhnya

dilakukan setelah selesai dari lapangan.

Tahapan Pengolahan dan análisis data

Sumber : Nugraha Setiawan (2005)

4. Pengolahan Data:

Paling  tidak  ada  dua  hal  yang  perlu  dilakukan  ketika melakukan  pengolahan

data:  (1)  Entry  data,  atau  memasukan  data  dalam  proses  tabulasi.  (2)

Melakukan editing ulang  terhadap data yang  telah ditabulasi untuk mencegah

terjadinya  kekeliruan  memasukan  data,  atau  kesalahan  penempatan  dalam

kolom maupun baris tabel.

 

Analisis dan Interpretasi Data

Analisa data adalah mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta  menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca. Step pertama dalam analisa adalah  membagi data atas kelompok atau kategori-kategori. Kategori tidak lain dari bagian-bagian.

Beberapa ciri dalam membuat kategori, adalah:

a. Kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.

b. Kategori harus lengkap

c. Kategori harus bebas dan terpisah

d. Tiap kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi

e. Tiap kategori harus dalam satu level.

Kategori harus sesuai dengan masalah penelitian, sehingga kategori tersebut dapat mencapai tujuan penelitian dalam memecahkan masalah. Dengan demikian, analisa yang dibuat akan sesuai dengan keinginan untuk memecahkan masalah. Kategori yang dibuat uga harus dapat menguji hipotesa yang dirumuskan.

Kategori harus lengkap, yang berarti bahwa semua subjek atau responden harus termasuk

ke dalam kategori tersebut. Kategori juga harus bebas dan terpisah nyata. Tiap individu atau

objek harus termasuk dalam satu kategori saja. Peneliti harus dapat membuat variabel

sedemikian rupa sehingga tiap objek dapat dimasukkan dalam satu kategori, dan hanya satu

kategori saja.

Hal  penting  yang  perlu  diingat  dalam  melakukan  analisis  data  adalah mengetahui  dengan  tepat  penggunaan  alat  analisis,    sebab  jika  kita  tidak memenuhi  prinsip-prinsip  dari  pemakaian  alat  analisis,  walaupun  alat analisisnya sangat canggih, hasilnya akan salah diinterpretasikan dan menjadi

tidak  bermanfaat  untuk mengambil  suatu  kesimpulan. Model-model  statistika untuk  keperluan  analisis  data  telah  begitu  berkembang,  dari  model-model statistika  deskriptif  hingga  ke  statistika  inferensial  non  parametrik  dengan persyaratan yang lebih “lunak “ dibandingkan dengan statistika parametrik yang sangat ketat dengan persyaratan-persyaratan tertentu dan sulit dipenuhi dalam

kerangka penelitian sosial. Ketika  kita  memutuskan  untuk  melakukan  analisis  data  menggunakan  alat statistika, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1.  Dari  mana  data  diperoleh,  apakah  berasal  dari  sampel  (melalui  proses sampling) atau dari populasi (dengan cara sensus)

2.  Jika  berasal  dari  sampel  apa  teknik  sampling  yang  digunakan,  apakah termasuk kelompok sampling probabilitas atau non probabilitas.

3.  Memakai  skala  apa  data  diukur,  apakah  menggunakan  skala  nominal, ordinal, interval, atau rasio.

4.  Bagaimana  hipotesis  yang  dibuat  apakah  perlu  dilakukan  pengujian  satu arah atau dua arah kalau memakai statistika inferensial.

Pengolahan Dan Analisis Data Menggunakan Komputer

Komputer adalah mesin pengolah data yang diciptakan manusia dengan tujuan mempertinggi produktivitas. Produktivitas dapat ditingkatkan dalam pengertian :

a)    Dengan menggunakan komputer kemampuan mengolah dan memecahkan masalah akan lebih besar dengan mutu yang lebih baik.

b)    Dengan menggunakan komputer permasalahan lebih cepat diselesaikan

c)    Dengan menggunakan komputer pengolahan dan analisis dapat dilakukan lebih teliti dan efektif

Jika dilihat dari segi komputer sebagai pengolah data maka paling sedikit ada 3 persyaratan yaitu :

  • Kumpulan data input yang akan diolah
  • Prosedur pengolahan yang telah direncanakan
  • Hasil output yang diinginkan dan dipergunakan untuk keperluan selanjutnya

Secara hierarki 3 persyaratan tersebut ditampilkan didala gambar berikut :

tahapan pengolahan dan analisis data menggunakan komputer

Sumber : nugraha setiawan (2005)

Tugas yang dilakukan oleh komputer dalam mengolah dan menganalisa data adalah sebagai berikut :

Problema & Data

Proses pelaksanaan tugas baru timbul, jika ada tugas atau ada persoalan yang dikerjakan atau dipecahkan. Untuk pemecahan masalah tersebut haruslah tersedia datanya.

Program atau Instruksi

Bagaimana memecahkan persoalan, hendak diapakan data tersebut harus dijelaskan pada pelaksana tugas. Dengan perkataan lain harus ada instruksi yang menegaskan tentang hendak diapakan data tersebut dan bagaimana pelaksanaan tugas pemecahan problemanya supaya diperoleh hasil yang diinginkan. Instruksi tersebut kita susun menjadi suatu program yang disebut dalam suatu bahasa yang dapat diterjemahkan oleh kompilator kedalam bahasa mesin sehingga komputer dapat mengerti.

Bahasa pemograman

Dalam memberikan instruksi ini disampaikan dalam suatu bahasa. Bahasa yang dimengerti oleh komputer, bisa berupa : FORTRAN, COBOL, SNOBOL, ALCCL, RPC, BASIC, dll.

Input Media

Instruksi diatas haruslah dimasukan melalui suatu media perantara. Alat perantara yang biasa digunakan biasanya adalah Punch card, Magnetic tape, Disk, dll.

Logika dan Aritmatika

Dalam memecahkan masalah, maka perlu dicarikan cara terbaik agar supaya masalah tersebut diselesaikan, untuk itu dibutuhkan logika dan perhitungan aritmatik.

Memory

Logika dan perhitungan aritmatik dapat dimanfaatkan jika disertai ingatan yang kuat. Dalam bahasa komputer daya ingat ini disebut dengan memory.

Librari

Berhasil atau tidaknya pelaksanaan tugas biasanya tergantung dari pengalaman yang dimiliki. Pengalaman yang banyak sangat berguna dalam penyelesaian tugas-tugas tersebut. Dalam komputer pengalaman tersebut dinamakan library.

Librari

Hasil yang diperoleh tergantung dari data yang tersedia untuk diolah. Jika data yang diolah tidak sempurna atau salah, maka hasil yang diperoleh juga tidak akan baik. Jenis dan bentuk dari hasil ini tergantung dari keinginan user. Perantara digunakan untuk penyampaian hasil ini kepada pemakai. Output media bisa berupa kertas printer, tape VDU, tanda bunyi dan lainnya.

Sistem Operasi

Sistem operasi mengkordinasikan seluruh peralatan atau device yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu sistem komputer.
Sumber:

Pengumpulan data Dalam sebuah penelitian, instrumen penelitian yang berkaitan dengan memperoleh data sangat tergantung dengan alat ukur atau instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut. Data digunakan sebagai bukti-bukti dalam menjawab permasalahan penelitian. Instrumen atau alat ukur untuk mengumpulkan data harus memiliki konsistensi apabila mengukur gejala yang sama pada waktu dan tempat yang berbeda. Disamping itu alat ukur harus memenuhi syarat validitas dan reabilitas dan harus bisa digunakan dengan benar oleh peneliti sehingga memperoleh data yang benar. Instrumen penelitian yang valid dan reliabel apabila salah dalam pengumpulan data juga tidak menghasilkan kualitas data yang benar, apalagi validitas-reabilitas tidak terpenuhi dan kualitas pengumpulan data juga tidak benar, maka tidak mungkin ada temuan penelitian jawaban permasalahan yang benar pula. Sehingga penguasaan teori, pemahaman objek yang diteliti, penguasaan metode, kepekaan, perhatian, kesiapan dalam mengumpulkan data menjadi hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengumpulan data. Untuk memperoleh data yang berkualitas benar, maka peneliti sebagai instrumen penelitian harus memilih sendiri apa yang menjadi fokus permasalahan penelitian, harus dimulai dari titik mana dalam pengumpulan data, siapa nara sumber, memilih dan memilah data mana yang berguna dan mana yang tidak, mereduksi data, menafsirkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan sampai bagaimana membahasakan pemahaman tentang objek dan subjek penelitian dalam bahasa tulis yang memungkinkan orang lain memahami seperti apa yang dipahami peneliti. Tehnik pengumpulan data penelitian adalah bagian dari metode penelitian. Penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki cara mengumpulkan data yang berbeda, namun kita jangan terjebak untuk menyebut tehnik pengumpulan data tertentu tidak dapat digunakan pada jenis penelitian yang lain. Contohnya pada pengumpulan data tehnik observasi dapat digunakan untuk pengumpulan data penelitian kuantitatif-eksperimen atau analisis isi kuantitatif, demikian juga dapat digunakan dalam penelitian kualitatif misalnya observasi partisipatif dengan subjek penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif membutuhkan waktu yang relatif lama dibandingkan penelitian kuantitatif. Proses penggalian data dari penjelajahan kenyataan lapangan, dipiliah dan dipilah, dikategorikan yang diharapkan memperoleh deskripsi secara mendalam, dihubungkan, dibandingkan sampai ditemukan konseptualisasi-konsep dan teori tentang pemahaman kenyataan lapangan. Proses penggalian data dilakukan secara singular terus menerus sampai peneliti merasa cukup. Prosesnya digambarkan dalam gambar dibawah ini. Sumber : Bungin Burhan 2006, Analisis data kualitatif Proses pengumpulan data merupakan bagian yang integral dari kegiatan analisis data. Artinya pada saat pengumpulan data sebenarnya peneliti berusaha memperoleh data apakah untuk memperkaya tujuan kategorisasi, deskripsi, konseptualisasi atau teoritisasi. Untuk tujuan itulah peneliti melakukan reduksi data ( editing, koding atau tabulasi). Data hasil reduksi diorganisasikan dalam bentuk tertentu sehingga mudah dimengerti. Pembuatan sketsa, sinopsis, matrik dan bentuk lainnya untuk memudahkan pemaparan dan penarikan kesimpulan. Prosesnya digambarkan dalam gambar dibawah ini ; Sumber : Bungin Burhan 2006, Analisis data kualitatif Dari sekian banyak tehnik pengumpulan data pada hakekatnya mana yang lebih mendekati kenyataan problematika yang kita teliti, dengan demikian dapat digunakan lebih dari satu tehnik pengumpulan data yang dapat digunakan, asalkan tehnik pengumpulan data yang digunakan tetap satu rangkaian metode penelitian. Observasi Observasi adalah pengamatan dengan melakukan pencatatan/pengkodean perilaku individu atau suasana (kondisi) dsb. Menurut James P Chaplin observasi ialah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Observasi ialah pengujian secara intensional atau bertujuan sesuatu hal, khususnya untuk maksud pengumpulan data. Merupakan suatu verbalisasi mengenai hal-hal yang diamati. Sebagai metode ilmiah observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung. Jenis observasi : a. Observasi partisipatif b. Observasi sistematis (structural observatif) c. Observasi eksperimental Dalam penelitian kualitatif observasi partsipatif atau pengamatan terlibat ini yang lazimnya digunakan sehingga dapat menemukan unsur, ciri, sifat dan keunikan dari objek serta subjek penelitian. Wawancara Tehnik pengumpulan data ini banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, walaupun tidak menutup kemungkinan digunakan dalam penelitian kuantitatif. Penggalian data dilakukan dengan bertanya langsung sesuai dengan objek yang diteliti, permasalahan atau fokus penelitian. Wawancara berstruktur (dengan pedoman yang sudah dibuat lebih dahulu). Wawancara tak berstruktur jenis wawancara bebas sesuai dengan masalah fokus dan tujuan penelitian. Wawancara terarah apabila pokok-pokok pertanyaan telah disiapkan. Dokumentasi Adalah berbagai data yang sudah tersusun sebagai informasi yang terbukukan, terekam atau tersimpan dapat digunakan sebagai sumber data. Hasil-hasil riset, data BPS, data institusi, data perusahaan, dsb. Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data, karena dalam banyak hal dokumen dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan. Fokus Group Discution (FGD) FGD digunakan sebagai salah satu metode pengumpulan informasi dan data pada suatu kasus yang spesifik, kontemporer, lintas disiplin dsb yang dilakukan dengan diskusi kelompok orang-orang yang kompeten/ahli dengan kasus tersebut atau berkaitan langsung dengan masalah atau fokus tertentu. Misalnya ; penanganan banjir, strategi komunikasi, strategi periklanan, perencanaan restrukturisasi perusahaan, manajemen konflik dsb. Cara ini dimaksudkan untuk memperoleh data dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada permasalahan tertentu. Pertimbangan dalam menentukan siapa yang terlibat dalam FGD berkaitan dengan beberapa hal, yaitu : – Keahlian atau kepakaran seseorang dalam kasus yang akan didiskusikan – Pengalaman praktis dan kepedulian terhadap fokus masalah – Pribadi terlibat dalam fokus masalah – Tokoh otoritas terhadap kasus yang didiskusikan – Masyarakat awam yang tidak tahu dengan masalah tersebut, namun ikut merasakan persoalan sebenarnya Pelaksanaan diskusi dipimpin oleh seorang pimpinan diskusi dan juga bisa dibantu oleh sekretaris yang akan mencatat jalannya diskusi. Namun, bisa saja pimpinan diskusi mencatat sendiri jalannya diskusi. Jenis – Jenis Data Penelitian yang akan digunakan. Dalam statisatik dikenal beberapa jenis data antara lain : a). Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, penjelasan, pendapat, gambar. Data kualitatif ini dalam penelitian sering juga dirubah menjadi data kuantitatif misalnya pada jawaban kuesioner yang dibuat skoring b). Data Kuantatif adalah data yang berbentuk angka, misalnya jumlah nilai matematika, jumlah penjualan, dll. c). Data Kontinum adalah data yang bervariasi menurut tingkatan dan ini diperoleh melalui hasil pengukuran. Data kontinum ini dibagi lagi menjadi 3 jenis yaitu : Data nominal adalah data yang digunakan untuk mengidentifikasi objek, individu, atau kelompok. Misalnya klasifikasi jenis kelamin (laki-laki / wanita), agama, pekerjaan dst. Pada kuesioner yang memberikan pilihan jawaban Ya (1) atau tidak (0) merupakan data nominal. Data ordinal adalah data yang berbentuk peringkat. Misalnya juara 1, 2 dan seterusnya. Pada kuesioner yang berskala Likert, data yang dugunakan adalah data ordinal seperti penyataan tidak setuju diberi skor 1, ragu diberi skor 2, dan setuju diberi skor 3. Data interval adalah data yang sama seperti nominal dan ordinal namun mempunyai karakteristik tetap dan dapat dinotasikan dalam fungsi matematika. Misalnya berapa kali ke pasar (2 kali, 3 kali dst), nilai tes, dst Data rasio adalah data angka sebenarnya, berjarak sama dan dapat dinotasikan dalam fungsi matematika. Misalnya berat badan, panjang jalan, dst. Perbedaan mendasar pada jenis data dan skala nominal, ordinal, interval dan rasio adalah : Data nominal dan ordinal tidak bisa secara langsung difungsikan dalam matematika, sedangkan data interval dan rasio bisa. Misalnya pada data ordinal, 2 + 2 = 4 atau tidak setuju + tidak setuju = setuju, dst. Sedangkan pada data interval dan rasio misalnya 20 kg + 20 kg = 40 kg. Data interval memiliki karekteristik nilai nol adalah bernilai sedangkan rasio tidak. Contohnya adalah pada data interval suhu 0 derajat tidak bisa disebut tidak ada suhu, namun menyatakan suhu tersebut adalah nol derajat, begitu juga dengan nilai tes siswa 0 tidak berarti bahwa siswa memiliki kemampuan nol atau tidak ada nilai namun berarti nilainya tesnya adalah nol. Sedangkan pada data rasio, berat nol berarti tidak ada beratnya, dan panjang nol berarti tidak ada panjangnya. Jenis data atau skala yang digunakan dalam penelitian sangat terkait erat dengan teknik analisis yang digunakan, karena pada statistik tidak semua data bisa digunakan dalam teknik analisis tertentu. Misalnya untuk data berjenis ordinal dan nominal maka teknik analisis yang digunakan adalah statistik non parametris, sedangkan pada data interval dan rasio, teknik yang digunakan adalah statistik parametris Referensi • Bungin, Burhan, 2006, Analisis Data penelitian kualitatif, Jakarta • ——————–, 2006, Metode penelitian kualitatif, Jakarta • Salim,Agus,2006, Teori dan paradigma penelitian sosial, Yogyakarta

Terminologi & Definisi

Pada tahapan – tahapan yang akan ditempuh dalam melakukan penelitian hipotesis merupakan sebuah langkah yang sangat penting, karena akan menentukan arah kemana penelitian akan berjalan untuk menjawab sebuah pertanyaan penelitian. Seorang periset dalam melakukan penelitian diawali dengan sebuah ide dan sebuah pertanyaan yang sifatnya lalu periset akan memaparkan perumusan masalah sesuai dengan literatur yang telah ia ketahui, selanjutnya dalam bagian akhir perumusan masalah akan mucul pertanyaan penelitian. Pertanyaan penelitian hendaknya bersifat tegas, lugas dan indah agar tidak terjadi multi-interpretasi, sebab hal yang penting penting dalam sebuah penelitian selain hipotesis dalam sebuah riset ilmiah adalah pertanyaan penelitian yang jelas dan tegas.

Gb.1. tahapan mencapai hipotesis

Tahapan selanjutnya setelah mengungkapkan sebuah pertanyaan penelitian adalah menyatakan sebuah hipotesis. Secara umum defenisi hipotesis adalah jawaban sementara pertanyaan penelitian yang masih bersifat praduga dan masih perlu diuji kebenarannya secara empiris.

kamus oxford online mendefenisikan hipotesis sebagai berikut :

“ a supposition or proposed explanation made on the basis of limited evidence as a starting point for further investigation”  (http://oxforddictionaries.com).

Atau dapat diartikan kedalam bahasa Indonesia secara bebas sebagai berikut :

Hipotesis adalah penjelasan dugaan atau usulan penjelasan yang dibuat berdasarkan bukti terbatas sebagai titik awal untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Kamus besar bahasa Indonesia menuliskan bahwa hipotesis adalah sesuatu yg dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dsb) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan. (http://kamusbahasaindonesia.org)

Definisi yang dikutip dari oxford, kamus bahasa Indonesia serta definisi yang telah disampaikan sebelumnya pada awal paragraph memiliki sedikit perbedaan, dimana pada penjelasan awal diungkapan hipotesis adalah sebuah jawaban sementara yang perlu diuji kebenarannya, namun menurut oxford hipotesis adalah sebuah usulan penjelasan terhadap sebuah dugaan untuk melakukan investigasi lebih lanjut dan kamus bahasa Indonesia mengungkapkan kata kunci bahwa hipotesis adalah sebuah pernyataan yang dianggap benar dan mesti dibukstikan kebenarannya. Namun demikian secara umum prinsip yang diungkapkan oleh dua defenisi tersebut adalah sama, yaitu melakukan investigasi lebih lanjut atau menguji kebenaran sebuah pernyataan yang ingin menjawab suatu fenomena. Bisa kita tarik garis singgung dari 3 pengertian diatas bahwa sebuah hipotesis adalah pernyataan yang bersifat sementara berdasarkan bukti terbatas yang dimiliki oleh periset, tapi mesti dibuktikan dan diuji kebenarannya secara empiris.

Berdasarkan pengertian diatas dapat juga kita tarik kesimpulan bahwa dalam sebuah riset ilmiah, hipotesis bisa dituliskan lebih dari satu pernyataan atau di dalam satu pertanyaan penelitian  bisa dijawab dengan beberapa hipotesis. Semakin banyak hipotesis yang kita kemukakan maka penelitian yang akan kita lakukan semakin luas, sebab hipotesis akan mengarahkan periset kepada kemungkinan jawaban dan pada akhirnya juga akan megarahkan periset menggunakan metodologi yang akan digunakan untuk menemukan jawaban tersebut.

Hipotesis berasal dari masalah – masalah praktis yang setiap hari kita temukan, dari situasi tingkah laku yang diamati atau dari penelitian sebelumnya serta teori –teori yang telah ada.  Dalam memperoleh sebuah hipotesis kita dapat menggunakan pola induktif yaitu periset dalam merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan variable yang diamati dan secara deduktif yaitu hipotesis berdasarkan teori – teori.

 

Kegunaan dan fungsi Hipotesis

Sebagaimana yang kita pahami bersama hipotesis dapat diturunkan menjadi teori apabila masalah yang kita teliti terselesaikan dan hipotesis yang kita ungkapkan terbukti kebenarannya secara ilmiah. Ada beberapa kegunaa hipotesis, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala – gejela serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
  • Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang dapat diuji langsung dalam penelitian.
  • Hipotesis dapat memberikan arah kepada penelitian
  • Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan hasil penyelidikan
  • Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
  • Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
  • Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.

Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis (James A. & Dean J. 1992). Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis. Fungsi hipotesis dalam sebuah riset adalah ;

  • Untuk menguji teori
  • Mendorong munculnya teori baru
  • Memperluas pengetahuan peneliti mengenai suatu gejala yang sedang dipelajari
  • Sebagai pedoman arah penelitian
  • Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan

Merumuskan Hipotesis

Dalam merumuskan hipotesis kita harus mempertimbangkan hal-hal berikut

  • Harus mengekpresikan hubungan antara dua variabel atau lebih, maksudnya dalam merumuskan hipotesis seorang peneliti harus setidak-tidaknya mempunyai dua variable yang akan dikaji.
  • Kedua variable tersebut adalah variable bebas dan variable tergantung. Jika variabel lebih dari dua, maka biasanya satu variable tergantung dua variabel bebas.
  • Harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda, artinya rumusan hipotesis harus bersifat spesifik dan mengacu pada satu makna tidak boleh menimbulkan penafsiran lebih dari satu makna. Jika hipotesis dirumuskan secara umum, maka hipotesis tersebut tidak dapat diuji secara empiris.
  • Harus dapat diuji secara empiris, maksudnya ialah memungkinkan untuk diungkapkan dalam bentuk operasional yang dapat dievaluasi berdasarkan data yang didapatkan secara empiris.
  • Sebaiknya Hipotesis jangan mencerminkan unsur-unsur moral, nilai-nilai atau sikap

Jenis – jenis  Hipotesis

Menurut bentuknya hipotesis dibagi menjadi 3, yaitu ;

  1. Hipotesis penelitian / kerja: Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji. Dalam Hipotesis ini peneliti mengaggap benar Hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
  2. Hipotesis operasional: Hipotesis operasional merupakan Hipotesis yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan Hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi  juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa Hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan Hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut Hipotesis nol (H0). H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada Hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya Hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
  3. Hipotesis statistik: Hipotesis statistik merupakan jenis Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).

Jenis – jenis hipotesis ini juga dapat kita tentukan dalam merumuskan tahapan sebuah hipotesis, yaitu dengan cara menentukan hipotesis kerja dilanjutkan dengan merumuskan hipotesis operasional dan terkakhir yaitu hipotesis statistik.

Ciri Hipotesis yang baik

Dalam menuliskan sebuah hipótesis perlu diperhatikan hal – hal yang menandakan bahwa itu adalah sebuah ciri – ciri hipótesis yang baik, diantaranya adalah sebagai berikut ;

  • Hipotesis hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan.
  • Hipotesis hendaklah menyatakan hubungan atau perbedaan antara dua atau lebih variabel, dimana terdapat variabel yang mempengaruhi dan variabel yang dipengaruhi.
  • Hipotesis hendaknya dapat diuji
  • Hipótesis harus memiliki daya pembeda
  • Hipótesis endaknya konsisten dengan pengetahuan yang suda hada
  • Hipótesis hendaknya memiliki ketertkaitan dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan di awal riset

Evaluasi hipótesis

Apabila  peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara , yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul , peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi teori, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti ( Furchon, 1982).

Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan peneliti dapat bersikap dua hal yakni  :

  • Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian)
  • Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).

Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain ( Furchon, 1982) :

  1. Perlu di uji apakah ada data yang menunjuk hubungan variabel penyebab dan variabel akibat.
  2. Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada ,memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
  3. Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan , maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian.

Referensi

Terminologi & Definisi

Penelitian atau research adalah suatu kegiatan mengkaji secara teliti dan teratur dalam suatu bidang ilmu menurut kaidah dan aturan yang sudah berlaku umum didalam bidang ilmu tersebut. Kaidah tersebut kita kenal dengan metode.

Riset muncul dari sebuah ide atau permasalahan yang muncul sesuai dengan ketertarikan si peneliti atau atas dasar sugesti dari orang lain. Ide atau permasalahan ini masih bersifat awal atau preliminary yang masih sangat terlalu prematur untuk dikaji sesuai dengan metode yang berlaku. Ide penelitian adalah menunjukan gambaran umum tentang sesuatu yang akan diteliti, yang berkaitan dengan fenomena, isu, masalah, pertanyaan, tema, teori dan perilaku sosial kemasyarakatan di suatu daerah.

Periset secara mendalam harus melakukan usaha studi literatur agar dapat mengetahui permasalah secara menyeluruh dan detail, setelah itu periset perlu melakukan perumusan masalah untuk menggambarkan ide dan masalah yang akan diteliti, untuk memberitahu kepada publik bahwa permasalahan yang diangkat memiliki urgensi dan kegunaan di masyarakat dan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Perumusan masalah adalah bagian yang sangat penting dalam tahapan penelitian, sebab akan menjadi penjelasan mengenai  titik tolak mengapa si periset harus melakukan investigasi terhadap permasalan tersebut. Pada umumnya perumusan masalah diakhiri dengan kalimat tanya yang bersifat tegas, lugas dan jelas, sehingga tidak memungkinkan ada pemahaman lain terhadap kalimat tanya tersebut. Kalimat tanya inilah dikenal dengan “Research Question”dalam tahapan penelitian.

Definisi Research question menurut berbagai sumber adalah sbb ;

http://www.theresearchassistant.com

Research question is statement that identifies the phenomenon to be studied.

Pertanyaan penelitian adalah sebuah kalimat tanya yang mampu mengidentifikasi sebuah fenomena yang akan dipelajari.

HulleySB&CummingSR,1988

a formulation stament of uncertainty about science or engineering that you wish to explore or resolve

Sebuah pernyataan tentang ketidakyakinan terhadap ilmu pengetahuan atau ilmu rekayasa yang ingin dipelajari secara mendalam dan diselesaikan.

Apabila ditarik kesimpulan dari kedua definisi diatas dapat kita ungkapkan bahwa pertanyaan penelitian adalah sebuah kalimat tanya yang tegas, lugas dan jelas terhadap suatu idea tau permasalahan yang mampu mengarahkan penelitian.

Merumuskan masalah

Pertanyaan penelitian yang baik harus didahului oleh perumusan masalah yang komprehensif. Agar penelitian tersebut dipahami secara keseluruhan, maka didalam membuat perumusan masalah banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang peneliti. Satu yang paling penting adalah bagaimana si peneliti mampu menjelaskan ide awal atau landasan berfikir permasalahan penelitian yang diungkapkan lalu mengerucut  menjadi sebuah ide penelitian yang bersifat detail dan layak untuk diteliti.

Perumusan masalah diawali dengan identifikasi masalah yang dapat diperoleh dengan membandingkan antara fakta dan teori atau harapan – harapan yang akan datang maupun antara fakta dengan kondisi yang seharusnya, sehingga terjadi gap yang dapat dikembangkan menjadi objek penelitian.

Identifikasi permasalahan dapat digali dari literature review, expert dan professional conference, pengamatan terhadap kegiatan manusia sekeliling, ulangan serta perluasan penelitian, cabang studi yang sedang dikembangkan, praktek serta keinginan masyarakat, bidang spesialisasi, pelajaran yang sedang diikuti,  diskusi-diskusi ilmiah, pengalaman dan catatan pribadi, deduksi dari teori, literatur yang relevan (termasuk laporan hasil penelitian) serta kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh suatu instansi, lembaga atau organisasi.

Ciri dari perumusan masalah yang baik adalah ;

1. mempertanyakan hubungan dua atau lebih variable, serta menjelaskan fokus permasalahan.

2. Dirumuskan secara spesifik dan jelas

3. Dapat diuji secara empiris

4. Tidak melanggar etika dan

5. Berorientasi pada teori tertentu

Maylor and Blackmon (2005), merangkai beberapa komponen dalam sebuah gambar, terkait dengan proses munculnya pertanyaan penelitian seperti dibawah.


Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa perumusan masalah dapat menjadi filter dari beberapa konsep, teori dan masalah, sehingga nantinya dapat menjadi sebuah topic penelitian dan pertanyaan penelitian.

Secara terperinci tujuan dari perumusan masalah adalah ;

1. mencari sesuatu dalam kerangka pemuasan akademis seseorang

2. Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru

3. Meletakan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian sebelumnya.

4. memenuhi keinginan sosial dan menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Membuat pertanyaan penelitian

Dalam membuat sebuah pertanyaan penelitian harus diperhatikan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, sebagai bahan pertimbangan (http://www.theresearchassistant.com) ;

  • Do I know the field and its literature well?
  • What are the important research questions in my field?
  • What areas need further exploration?
  • Could my study fill a gap? Lead to greater understanding?
  • Has a great deal of research already been conducted in this topic area?
  • Has this study been done before? If so, is there room for improvement?
  • Is the timing right for this question to be answered? Is it a hot topic, or is it becoming

obsolete?

  • Would funding sources be interested?
  • If you are proposing a service program, is the target community interested?
  • Most importantly, will my study have a significant impact on the field?

Dengan memeriksa tiap poin pertanyaan diatas kita akan mampu membuat pertanyaan penelitian dengan baik dan fokus, sehingga akan dapat mengarahkan penelitian.

Dibawah ini akan disebutkan beberapa cara dalam membuat pertanyaan penelitian, diantaranya yaitu ; a. Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan

b. Pertanyaan hendaknya jelas dan padat

c. Pertanyaan harus berisi implikasi  adanya data untuk memecahkan masalah

sumber dari pertanyaan penelitian adalah sbb ;

Ciri Pertanyaan penelitian yang baik

Pertanyaan penelitian yang baik adalah sebagai berikut ;

  • Fisible

Artinya pertanyaan penelitian harus layak untuk dilakukan investigasi untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang diajukan. Layak dapat juga diartikan tersedianya data dan metode untuk memecahkan masalah, tersdianya biaya dan waktu yang wajar untuk menyelesaikan sebuah penelitian.

  • Interesting

Pertanyaan penelitian harus dituliskan secara indah dan menarik sehingga apakah mampu mengundang ketertarikan masyarakat atau pembaca ingin mengetahuinya lebih mendalam.

  • Relevant

menunjukkan relevansinya terhadap masyarakat, kelompok sosial, atau literatur dan

perdebatan ilmiah . Berikut ini adalah dua  cara yang biasa digunakan untuk menunjukkan relevansi dalam proposal penelitian, yaitu ;

Mengisi potongan teka-teki yang hilang.  Apabila proposal Anda dapat menggambarkan

suatu bidang atau dilemma tertentu dan kemudian menunjukkan bagian tertentu yang

hilang dalam bidang atau dilemma tersebut—suatu lubang yang akan diisi oleh jawaban

atas pertanyaan penelitian Anda.

Membuat hubungan.  Meskipun Anda meneliti topik yang sempit atau di tempat yang

khusus, ajukanlah pertanyaan yang membantu mengaitkan penelitian itu dengan tren,

pola, dan konteks yang lebih luas.

  • Pertanyaan penelitian itu harus jelas.

Pertanyaan penelitian yang jelas cenderung pendek, secara konseptual langsung, dan

tidak mengandung jargon.  Ini tidak berarti pertanyaan itu harus terlalu simplistik tetapi senam

teoritis dan bahasa ilmu yang abstrak itu sebaiknya disimpan untuk bagian analisis.  Usahakan

pertanyaan Anda tetap sejelas dan sesederhana mungkin.  Hal ini mungkin lebih mudah

dilakukan dalam kasus-kasus tertentu, tetapi sebagian proposal yang efektif adalah proposal

yang pertanyaannya dirumuskan secara paling sederhana dan paling langsung, tidak berbelit-

belit.  Sebaliknya, pertanyaan penelitian yang paling rumit cenderung muncul dalam proposal

yang penelitinya tampak lebih tertarik untuk menunjukkan pengetahuan teoritisnya daripada

melakukan penelitian itu sendiri.  Berikut ini adalah beberapa cara sederhana untuk menjaga

pertanyaan penelitian Anda tetap jelas.

Buatlah pertanyaan Anda membumi.  Jagalah pertanyaan Anda tetap dekat dengan

topik atau tempat yang Anda teliti.  Pertanyaan yang terlalu abstrak atau terlalu tumpul

membuat pembaca kesulitan mengetahui relevansi dan tujuan pertanyaan Anda.  Anda

memang masih perlu mengaitkan pertanyaan Anda ke konteks yang lebih luas, tetapi

dasarkan hubungan itu dengan hal-hal spesifik yang terkait dengan waktu dan tempat.

Batasi jumlah variabel.  Jika pertanyaan penelitian dibebani dengan terlalu banyak

variabel atau terlalu banyak ketentuan, penelitian tersebut akan menjadi sulit dibaca

dan sulit diteliti.  Berikut ini adalah dua contoh yang berbeda: pertanyaan seperti:

  • Pertanyaan penelitian itu harus dapat diteliti.

Pertanyaan penelitian perlu secara jelas menunjukkan bahwa penelitian untuk menjawab

pertanyaan tesebut ”dapat dilaksanakan.”  Salah satu alasan yang paling sering digunakan

untuk menolak proposal adalah karena pertanyaannya terlalu luas (atau terlalu mahal) untuk

dijawab oleh peneliti.  Banyak pertanyaan yang perlu Anda jawab sendiri untuk menghindari

kesalahan ini.  Yang terpenting, pertimbangan keterbatasan Anda.  Banyak pertanyaan praktis

yang perlu dipertimbangkan ketika memilih pertanyaan penelitian.  Yang pertama adalah

”berapa waktu yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian itu?”  Kemudian, ”apakah Anda

mempunyai latar belakang yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian itu?”  Apakah ada

hambatan-hambatan etika?  Apakah proyek itu mungkin akan disetujui oleh pembimbing atau perguruan tinggi untuk melindungi subyek manusia?  Apakah Anda bisa memperoleh

kerjasama dari semua individu, kelompok masyarakat, lembaga yang Anda perlukan untuk

menjawab pertanyaan tersebut?  Apakah biaya untuk melaksanakan penelitian itu lebih besar

daipada yang dapat Anda usahakan?  Kalau saya tidak dapat menyelesaikan penelitian ini

dengan baik, dapatkah saya memecahnya dan mengerjakan komponen yang paling penting?

Ingatlah bahwa menulis pertanyaan penelitian itu merupakan proses yang tidak sekali jadi dan

pertanyaan-pertanyaan seperti itu perlu dipertimbangkan secara cermat dalam desain dan

anggaran penelitian Anda.

Sumber

Terminologi & Definisi

Widawaty dan Lien dalam tulisannya mengutip sebuah kalimat dari buku yang ditulis Neuman. Disana dinyatakan bahwa

Scientific research is not an activity of isolated hermits who ignore others? Findings.

Rather, it is a collective effort of many researchers who share their results with one another and

who pursue knowledge as a community.? (Neuman, 1997, h.89)

Secara bebas saya artikan bahwa penelitian ilmiah bukanlah suatu kegiatan yang yang tertutup yang menolak intervensi lain di dalam aktivitasnya, namun adalah suatu kegiatan yang dilandaskan atas usaha bersama yang dilakukan oleh peneliti, mereka membagi dan menyebarkan hasil yang didapatkan dan mengambil informasi dari penelitian terdahulu, demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Pernyataan yang disampaikan oleh Neurman menunjukan bahwa setiap usaha baru ilmiah didasarkan atas usaha- usaha yang dilakukan sebelumnya, oleh karena itu sebuah masalah yang ingin diteliti bukanlah suatu masalah yang tak pernah diteliti oleh orang lain sebelumnya. Penelitian atau usaha ilmiah sebelumnya yang melandasi atau mensuggest penelitian yang terbaru dikenal dengan “literature”.

Literatur mampu memberikan keyakinan seorang periset dalam mendukung landasan berfikirnya, sangat membantu dalam memecahkan masalah-masalah yang ditemukan selama dalam riset. Prof Hasanudin dalam kuliahnnya (2011)  menyatakan bahwa literatur mencangkup seluruh proses dalam penelitian dan bersitat iteratif, artinya usaha untuk mencari justifikasi atas treatment bagaimana dan apa yang kita lakukan dalam tiap-tiap langkah penelitian dapat meyakinkan kita sebagai periset dan juga bisa dipertanggungjawabkan diluar. Namun demikian literature juga bias seperti pisau bermata dua, disatu sisi dapat mendukung periset dalam penelitiannya namun disisi yang lain periset dapat terombang ambing akibat banyaknya literature yang ada, sehingga kesulitan untuk memformulasikannya dalam bentuk tulisan. Prof Hasannudin meberikan solusi dalam hal ini bahwa perisetlah yang memegang kendali atas penelitiannya, landasan berfikir tetap sebagai guidelines dan jadikan literature hanya sebagai pendukung.

Didalam dunia penelitian padanan bagi literature dititik beratkan kepada “creative writing” atau tulisan ilmiah, bisa juga diartikan sebagai temuan-temuan ilmiah yang bersifat aplikatif dan dibukukan dalam bentuk tulisan. Kenapa harus dalam bentuk tulisan? Sebab sebuah usaha ilmiah harus memiliki dokumentasi agar dapat diketahui oleh khalayak banyak dan dapat dipelajari kembali. Sedangkan studi secara sederhana adalah sebuah usaha untuk mempelajari suatu objek.

Sehingga saya dapat mengartikan studi literature adalah usaha untuk mempelajari produk–produk temuan ilmiah yang didokumentasikan dalam bentuk tulisan, guna mendukung dan memperkuat argument dari penelitian baru atau penelitian lanjutan yang sedang kita lakukan.

Studi literature dapat diambil dari berbagai sumber, diantaranya adalah Text Book, jurnal ilmiah terbitan internasional maupun nasional, tugas akhir dari mahasiswa sarjana maupun pascasarjana dan media online seperti internet. Menurut prof Hasanuddin sumber yang paling valid sebagai literature adalah text book, karena semua materi dan tulisan di dalam text book yang bersangkutan sudah diuji dan di review oleh banyak ahli, juga sudah digunakan oleh para peneliti sebagai rujukan dalam penelitian mereka.

 

Urgensi Studi Literatur

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa studi literature diartikan sebagai usaha mencari referensi teori yang relevan dengan kasus yang sedang kita teliti. Sedangkan  Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan untuk menemukan jawaban suatu  permasalahan, dan yang tujuan akhirnya adalah memberikan kontribusi teoretis dan/atau  praktis pada pengembangan bidang ilmu yang bersangkutan.  Penemuan suatu penelitian bisa suatu hal yang baru, bisa juga konfirmasi penemuan terdahulu; bisa bersifat teoretis dan/atau praktis.  Kebaruan tersebut bisa dari segi  kerangka berpikir atau kerangka berpikir, metodologi, karakteristik subyek yang diteliti, dan/atau hasil penelitian.

Namun demikian salah satu ciri mendasar dari kegiatan ilmiah adalah bersifat sistematik, artinya dilakukan menurut system ilmu pengetahuan yang bersangkutan, dengan kata lain, suatu penelitian harus dilakukan menurut

cara-cara dan pengetahuan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan cara-cara dan pengetahuan yang sudah dikembangkan sebelumnya.  Karena itu, untuk dapat memberikan  sumbangan teoretis dan/atau praktis pada suatu atau beberapa disiplin ilmu secara  sistematik, peneliti harus mengetahui terlebih dahulu hal-hal apa saja yang sudah diketahui  mengenai suatu masalah, dan metode apa saja yang sudah dipakai untuk mengerti hal

tersebut; sebelum dia dapat mengetahui hal-hal apa saja yang masih perlu diteliti mengenai  masalah tersebut dan metode  apa yang tepat.  Pengetahuan ini hanya dapat diperoleh melalui studi literatur.  Inilai alasan dari urgensi dari sebuah literature dan posisinya dalam sebuah karya ilmiah.

Alasan lain adalah, dalam konstruksi suatu disiplin ilmu merupakan  usaha kolektif komunitas ilmuwan  yang bersangkutan, dan usaha kolektif ini terutama sekali dilakukan melalui kajian karya-karya sesama anggota. Dengan kata lain, usaha membangun ilmu pengetahuan baru dapat berlangsung  secara efektif dan efisien, bila periset mendasarkannya pada kajian literatur.   Melalui kajian  literatur, peneliti dapat terhindar dari melakukan penelitian hal-hal yang sudah pernah diteliti, pengembangan instrumen yang sudah pernah dibuat, dan pengulangan kesalahan-kesalahan masa lalu.  Peneliti juga dapat mengetahui penelitian-penelitian apa dan yang bagaimana  yang masih perlu dilakukan.  Dengan demikian, penelitian yang dilakukannya niscaya akan  senantiasa dapat memperkaya dan memperluas bangunan ilmu pengetahuan.

Dalam kasus-kasus tertentu studi literature lintas disiplin ilmu juga sering dilakukan, apabila penelitian yang dilakukan oleh periset memiliki irisan dan mengkaji sebahagian dari disiplin ilmu yang lainnya, untuk semakin mendukung bahan penelitiannya. Dengan melakukan komparasi lintas ilmu seperti ini, maka hasil riset akan semakin baik dan valid.

Studi Literatur dalam Setiap Tahap Penelitian

Seperti yang disebutkan diatas bahwa setiap tahapan dari kegiatan penelitian selalu melakukan studi literature. Secara umum tahapan penelitian mulai dari yang paling sederhana sampai yang kompleks, akan meliputi tahap-tahap seperti yang digambarkan berikut ini.

Pada gambar diatas digambarkan bahwa studi literature digunakan dalam ; merumuskan topik dan tujuan penelitian, mengembangkan kerangka berfikir, membuat rancangan penelitian, mengumpulkan data dan melakukan analisis dan interpretasi.

  • Merumuskan Topik dan tujuan

Merumuskan topik suatu penelitian  bisa datang dari sumber mana saja: observasi, diskusi, literatur; dari sponsor, dosen, dsb.  Dari mana pun sumbernya, peneliti harus mampu memberikan alasan pemilihan topiknya berdasarkan literatur.  Kenapa? karena literature mempunyai kelebihan dari segi ilmiah sehingga dapat lebih dipercaya, literatur juga membantu memaparkan konteks dan arti kepada penelitian tersebut.   Melalui kajian literatur, peneliti yang bersangkutan dapat menyatakan secara eksplisit, dan pembaca dapat melihat, mengapa hal yang ingin diteliti merupakan masalah yang memang harus diteliti, baik dari segi subyek yang akan diteliti dan lingkungannya, maupun dari sisi hubungan penelitian tersebut dengan  penelitian lain yang relevan.  Neuman (1997, h. 90).   Di samping itu, studi literatur juga bisa membantu peneliti memperjelas perumusan masalah dan tujuan penelitiannya.  Bukan hal yang baru pula bila kajian literatur membuat seseorang beralih topik dan/atau tujuan

  • Mengembangkan kerangka berfikir

Dalam kontek studi literature kerangka berfikir adalah cara pandang dan pemikiran, dari para ahli dan juga peneliti, tentang gejala yang diteliti: konsep atau variabel yang relevan (termasuk pengertiannya), dan hubungan antar-konsep.  Bagian ini adalah  untuk membantu peneliti secara lebih rinci melihat konteks penelitian, dan variabel-variabel yang terlibat; memutuskan tentang variabel-variabel mana saja yang akan menjadi perhatiannya beserta alasannya, dan  dalam pengertian yang bagaimana variabel-variabel itu akan diteliti.   Kerangka berpikir membantu peneliti untuk melihat masalah yang ditelitinya, dan mengidentifikasi serta mengembangkan konsep-konsep sentral dan kurang sentral, secara kontekstual dan proporsional.  Kerangka berpikir juga menghindarkan peneliti dari pengabaian dan/atau ketidaktahuan mengenai variabel-variabel yang sebetulnya berperanan besar. Selain itu, kerangka berpikir membantu peneliti di tahap-tahap selanjutnya, yaitu perumusan hipotesa (kalau ada), penentuan metode penelitian, pembuatan instrumen pengumpulan data, dan analisis data.  Neuman (1997, h.90)

  • Membuat rancangan penelitian

Peneliti menentukan rancangan penelitian yang paling tepat untuk mencapai tujuan penelitiannya, subyek penelitian yang paling sesuai, cara mengidentifikasi  dan menjaringnya, cara mengumpulkan data dan  informasi, dan cara mengelola dan mengolah data yang dikumpulkan. Selain buku-buku metodologi penelitian, peneliti juga perlu membaca laporan-laporan penelitian mengenai topik yang serupa ataupun penelitian dengan kelompok masyarakat yang serupa.  Laporan-laporan ini tidak jarang memuat pengalaman tentang metode dan instrumen yang digunakan, dan usulan tentang bagaimana penelitian yang serupa sebaiknya dilakukan di masa yang akan datang. Bahkan seringkali informasi mengenai teknik-teknik penelitian yang tidak umum dipakai justru pertama kali diperoleh peneliti dengan membaca laporan-laporan penelitian   Dengan cara ini, peneliti bukan hanya akan dapat menghindari pengulangan kesalahan penelitian-penelitian yang lalu, tetapi juga melakukan terobosan baru, dalam hal menjangkau subyek penelitian yang sulit dijangkau, mengukur konsep, dan mengeluarkan sebanyak mungkin informasi berharga dari data yang terkumpul (yaitu, misalnya, dengan teknik analisa data yang lebih mahir).

  • Mengumpulkan data, analisis dan intrepretasi data

Dalam penelitian kuantitatif, pengumpulan data dilakukan sesudah konsep, metode, dan instrumen pengumpulan data, dalam bentuk akhir.  Dengan perkataan lain,  penemuan di literatur yang kemudian tidak bisa merubah pengumpulan data yang sedang berlangsung.  Berbeda dengan penelitian kualitatif, pengumpulan data berlangsung secara simultan dengan analisis dan interpretasi data, dan pengembangan kerangka berpikir.  Supaya peneliti mengetahui dengan pasti kebenaran hasil penemuannya, hasil  analisis data sebaiknya dibandingkan dengan hasil kajian literatur, termasuk kerangka berpikir   yang dibuat.  Peneliti sebaiknya memeriksa apakah kenyataan yang dia temukan di lapangan mengenai variabel-variabel yang diteliti, dan hubungan antar-variabel, sesuai atau tidak dengan yang dipaparkan dalam kerangka berpikir tersebut.  Seandainya ditemukan hasil yang berbeda, studi literatur lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban mengenai hal-hal yang menjadi penyebabnya.

Mempersiapkan Studi Literatur

Persiapan studi literature pada dasarnya dibagi menjadi 2 jenis kegiatan, yaitu ; identifikasi bahan-bahan literatur yang relevan dengan penelitian dan mendokumentasikan keterangan bibliografi yang ditemukan pada tulisan-tulisan yang terdapat didalam literatur yang telah dibaca sebelumnya.

Dalam melakukan identifikasi banyak cara dan sarana yang bisa digunakan oleh periset, diantaranya yaitu catatan kaki atau bibliografi yang tercantum di dalam produk ilmiah tersebut, kemudian mengunjungi perpusatakaan untuk mencari sumber-sumber yang tercantum dalam bibliografi. Proses pencarian dapat dilakukan melalui katalog manual maupun komputer.

Dengan demikian, sumber-sumber informasi yang ditemukan bisa merupakan sumber langsung; dan juga sumber tidak langsung, yaitu berupa bibliografi, katalog, abstrak, indeks, alamat-alamat e-mail dan homepage, dsb.,  yang merujuk pada sumber langsung.  Sumber langsung untuk kegiatan ilmiah umumnya berupa jurnal ilmiah, buku, laporan penelitian, tesis dan disertasi, dokumen pemerintah; dalam bentuk tercetak maupun elektronik.

Setelah sumber-sumber literatur ditemukan periset akan memutuskan memanfaatkannya sebaik mungkin dengan cara memberikan catatan terhadap literatur tersebut. Ada 2 macam catatan, yaitu; catatan bibliografi sumber dan catatan isinya.(Widawaty dan Lien, 2006).

Sumber

  • Diao Ai Lien & Yunita Riris Widawaty (2006), Makalah : KEGUNAAN STUDI LITERATUR DALAM PENELITIAN SEKSUALITAS.
  • http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-5121-4201100038-bab3.pdf
  • Neuman, W.L. (1997).  Social research methods: qualitative and quantitative approach (3rd ed.).  London: Allyn and Bacon.
  • Catatan materi kuliah metode penelitian program pascasarjana geodesi dan geomatika oleh Prof Hasanudin (2011)

Definisi

 

1, Wikipedia (2011)

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:

  1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)

Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan observasi; observasi yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi

  1. Hipotesis & Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)

(penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan pengukuran)

Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau observasi suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya (apakah benar-benar akan terjadi atau tidak). Hanya dengan demikianlah maka terjadinya hasil tersebut menambah probabilitas bahwa hipotesis yang dibuat sebelumnya adalah benar. Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui, hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika prediksi tersebut tidak dapat diobservasi, hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. Sebagai contoh, teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan

  1. Eksperimen
    Setelah prediksi dibuat, hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi, maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi, maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut. Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi dari hipotesis. Bergantung pada prediksi yang dibuat, berupa-rupa eksperimen dapat dilakukan. Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis. Eksperimen bahkan dapat berupa mengemudikan pesawat dari New York ke Paris dalam rangka menguji hipotesis aerodinamisme yang digunakan untuk membuat pesawat tersebut. Pencatatan yang detail sangatlah penting dalam eksperimen, untuk membantu dalam pelaporan hasil eksperimen dan memberikan bukti efektivitas dan keutuhan prosedur yang dilakukan. Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.
  1. Pengulangan
    Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari. Ketidakberhasilan suatu hipotesis dalam menghasilkan prediksi yang menarik dan teruji dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan kembali hipotesis tersebut atau definisi subjek penelitian. Ketidakberhasilan eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut, hipotesis yang mendasarinya, atau bahkan definisi subjek penelitian itu. Dapat pula ilmuwan lain memulai penelitian mereka sendiri dan memasuki proses tersebut pada tahap yang manapun. Mereka dapat mengadopsi karakterisasi yang telah dilakukan dan membentuk hipotesis mereka sendiri, atau mengadopsi hipotesis yang telah dibuat dan mendeduksikan prediksi mereka sendiri. Sering kali eksperimen dalam proses ilmiah tidak dilakukan oleh orang yang membuat prediksi, dan karakterisasi didasarkan pada eksperimen yang dilakukan oleh orang lain.

2. Notohadiprawiro (2005)

Notohadi prawiro menuliskan bahwa metode adalah suatu kerangka kerja untuk melakukan suatu tindakan atau suatu kerangka berfikir menyusun gagasan yang beraturan, berarah dan berkonteks, yang paut (relevan) dengan maksud dan tujuan. Secara ringkas metode ialah suatu system berbuat. Karena merupakan sebuah system maka metode merupakan seperangkat unsur-unsur yang membentuk suatu kesatuan.

Sedangkan unsure dari metode adalah ; wawasan intelektual, konsep, cara penghampiran (approach) persoalan dan rancang bangun alas data (database).

Wawasan intelektual berkenaan dengan nalar, tanggap rasa (sensation), persepsi, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Konsep adalahhasil proses intelektual berupa kejadian imajinatif untuk memperluas atau memeperkaya persepsi, sehingga dapat dibentuk gagasan baru yang dapat menganalis persoalan secara lebih cermat. Cara berkenaan dengan pola berfikir. Database ialah cerminan tentang kenyataan yang dimiliki oleh seorang peneliti, atau persepsi peneliti tentang kenyataan. Database disusun sedemikian rupa agar semua data yang terkumpulkan dapat dialokasikan kepada kedudukan atau fungsinya yang sepadan menurut maksud dan tujuan penelitian.

Sifat Ilmu Pengetahuan dan Metode Ilmiah

 Logis atau masuk akal, yaitu sesuai dengan logika atau aturan berpikir yang ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Definisi, aturan, inferensi induktif, probabilitas, kalkulus, dll. merupakan bentuk logika yang menjadi landasan ilmu pengetahuan. Logika dalam ilmu pengetahuan adalah definitif. Obyektif atau sesuai dengan fakta. Fakta adalah informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penalaran fenomena.

 

Obyektif dalam ilmu pengetahuan berkenaan dengan sikap yang tidak tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Atribut obyektif mengandung arti bahwa kebenaran ditentukan oleh pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan dan penalaran fenomena.

Sistematis yaitu adanya konsistensi dan keteraturan internal. Kedewasaan ilmu pengetahuan dicerminkan oleh adanya keteraturan internal dalam teori, hukum, prinsip dan metodenya. Konsistensi internal dapat berubah dengan adanya penemuan-penemuan baru. Sifat dinamis ini tidak boleh menghasilkan kontradiksi pada azas teori ilmu pengetahuan.

Andal yaitu dapat diuji kembali secara terbuka menurut persyaratan yang ditentukan dengan hasil yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan bersifat umum, terbuka dan universal.

Dirancang. Ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah. Rancangan ini akan menentukan mutu keluaran ilmu pengetahuan.

Empiris. Ilmu pengetahuan merupakan himpunan fakta, teori, hukum, dll. yang terkumpul sedikit demi sedikit. Apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah itu akan diganti dengan kaedah yang benar. Kebenaran ilmu bersifat relatif dan temporal, tidak pernah mutlak dan final, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka.

Tipe – tipe  Metode Ilmiah

Berikut ini beberapa tipe karya ilmiah :

•  ANALISIS

melihat apa yang dibalik permukaan materi: melihat hubungan antar bagian dan keseluruhan, mengenali hubungan antara sebab-akibat, mencari hal-hal penting, mempertanyakan suatu validitas. Kata tanya yang digunakan BAGAIMANA, atau APA.Kalimat tanya yang dibentuk bukanlah kalimat tanya yang tertutup atau hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”. Kalimat tanya yang dibentuk membutuhkan penjabaran dalam

menjawabnya. Penjabaran itulah yang kemudian menjadi karya ilmiah yang disusun dalam bab-bab yang berurutan dan saling berhubungan.

•  PERBANDINGAN

berarti mencari perbedaan dan persamaan. Aspek yang dibandingkan disiapkan dan digunakan untuk menyusun penulisan.

•  ARGUMENTASI

(setuju atau tidak setuju) meminta kita berada di satu sisi berdasarkan analisis dari bukti-bukti yang kuat dan alasan yang jelas dan dapat diterima.  Pada dasarnya hanya ada dua tipe dari 3 tipe yang dijelaskan di atas yaitu tipe analisis dan argumentasi. Tipe perbandingan termasuk dalam tipe analisis karena melakukan  analisis terhadap 2 hal yang dibandingkan.

Penalaran dalam metode Ilmiah

Pada dasarnya penalaran dalam metode ilmiah adalah bertujuan untuk menemukan sesuatu. Berfikir adalah kegiatan mental berdasarkan pengalaman dengan maksud tertentu. Dengan kata lain , penalaran adalah mengolah informasi yang tersediakan untuk digunakan. Maksud dan tujuan dalam menalar sesuatu adalah memperoleh pengertian, membuat keputusan, perencanaan, penilaian keadaan, menetapkan tindakan, dll.

Di dalam penalaran ada istilah proses sibernatik, yaitu proses yang memiliki mekanisme umpanbalik (feedback) yang keluaran menjadi masukan kembali untuk mengatur keluaran berikutnya, lalu membentuk pola dan menghasilkan keputusan yang mengarah ke tindakan. Makin banyak pola berfikir, makin banyak alternatif putusan yang dapat diambil dan detail tindakan makin cermat dan makin lentur.

Bagan berikut menunjukan kepada kita alur dalam penalaran untuk mengambil suatu :

Secara umum dikenal dengan 2 penalaran, yaitu deduksi dan induksi. Deduksi berpangkal pada suatu pendapat umum berupa hukum, teori atau kaedah dalam menyusun suatu kejadian khusus. Deduksi juga disebut dengan interpolasi pendapat dan merupakan penalaran formal. Deduksi mengembalikan setiap kejadian kepada pendapat umum, maka deduksi hanya benar apabila pendapat umum yang digunakan itu benar, Tujuan utama dari deduksi adalah bukan kebenaran kesipulan tapi validitasnya. Validitas kesimpulan ditentukan oleh bentuk-bentuk alasan yang diajukan untuk menghubungkan kejadian dengan awal pendapat. Namun demikian deduksi tidak dapat membawa ke pembentukan pendapat baru

Induksi bertolak pada sejumlah fakta untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum. Induksi juga disebuk ekstrapolasi pendapat lewat proses generalisasi. Derajat kebenaran induksi tergantung pada jemlah dan keterandalan fakta yang digunakan untuk generalisasi, makin banyak dan andal fakta maka makin tinggi derajat kebenaran kesimpulan. Dengan penalaran induksi ini periset berpeluang menciptakan teori baru, berarti penalaran induktif lebih subur dari pada deduktif (Notohadiprawiro ,2005).

Bagan berikut merupakan hubungan antara penalaran induksi dan deduksi, yang apabila dijadikan dalam suatu kesatuan akan memperoleh hasil yang lebih optimal bagi pengembangan ilmu.

Data

Data adalah fakta yang dapat ditarik menjadi suatu kesimpulan dalam kerangka persoalan yang digarap. Fakta ialah kenyataan telah terjadi dan didudukan dalam kerangka persoalan. Pengertian kenyataan mencangkup segala sesuatu yang teramati, tersidik atau terukur, pengalaman dan pendapat yang diakui sebagai suatu kebenaran umum dan berisifat mantap. Teori, hukum termasuk fakta.

Fakta dalam rangka sebab akibat disebut dengan gejala (fenomena), sedangkan dalam rangka memastikan jawaban fakta disebut dengan bukti (evidance). Ada persoalan yang hanya bisa dibuktikan dengan satu fakta saja ada yang lebih.

Fakta dapat ditampilkan dalam bentuk angka, tanda pengenal, lambang, gambar atau istilah bahasa seperti meja, kursi, dll. Data dalam bentuk angka disebut dengan kuantitatif artinya data dapat langsung diolah secara aritmetik, matematik dan statistik, sedangkan data dalam bentuk lain disebut dengan data kualitatif.

Saat ini ada sebutan data yang dikuantitatifkan (diangkakan), biasanya ini terjadi pada riset kualitatif, cara yang digunakan adalah dengan diberikan bobot (scoring) pada data kualitatif tersebut. Oleh sebab itu skor adalah harga atau nilai nisbi.

Data yang baik adalah data yang andal, dengan kriteria tidak mengandung unsur subjektifitas dan memiliki presisi yang tinggi bila diuji dengan langkah-langkah statistik. Suatu data dapat dianggap penting apabila ; (1) dapat menafsirkan objek secara baik, (2) dapat megklasifikasikan objek dengan benar dan (3) dapat menentukan kehadiran parameter yang lain, parameter adalah suatu ciri numerik yang dapat diberikan bermacam-macam harga, parameter dapat menjadi suatu tetapan atau variabel.

Sumber :

Definisi Riset

 

Beberapa referensi mengenai definisi riset adalah sebagai berikut :

Keputusan SA-ITB no.032/sk/k01-SA/2002

Penelitian (Riset)  adalah kegiatan eksplorasi untuk menggali ilmu dan pengetahuan baru yang dilakukan menurut kaidah dan metodologi yang absah untuk memperoleh informasi, teori, model melalui eksperimen, ekspedisi, proses penemuan (discovery & invention)

Hopkins WG (2002)

Research is all about addressing an issue or asking and answering a question or solving problem.

Riset adalah mengirimkan sebuah isu atau pertanyaan serta menjawab sebuah pertanyaan atau memecahkan masalah.

Hopkins didalam definisi diatas memberikan key word mengenai apa yang dimaksud dengan Riset atau penelitian. Ada dua kunci penting dalam sebuah riset yaitu memunculkan sebuah pertanyaan (addressing issue) dan bagaimana menjawab dan memecahkan masalah tersebut (solving problem).

Burns (1994)

Research is a systematic investigation to find answers to a problem.

Riset adalah investigasi sistematik untuk menemukan jawaban dari sebuah permasalahan.

Burn mendefinisikan riset secara lebih sederhana, namun sangat mudah dipahami. Intinya adalah bagaimana menjawab sebuah pertanyaan atau permasalahan yang ada dengan langkah-langkah yang sistematik.

Kerlinger (1986)

Scientific research is a systematic, controlled empirical and critical investigation of propositions about the presumed relationship about various phenomena.

Riset ilmiah adalah sistematik, terkontontrol secara empiris dan investigasi kritis terhadap dalil mengenai dugaan hubungan antar berbagai fenomena.

Kerlinger memberikan penekanan lebih, dalam definisinya diatas, yaitu harus ada faktor investigasi kritis. Ini artinya seorang peneliti tidak harus yakin 100% terhadap investigasi yang telah dilakukan untuk menjawab permasalahan, namun juga harus memberikan sedikit kritik atau keraguan terhadap hasil investigasinya, dengan harapan nantinya peneliti akan mencari sumber-sumber lain sebagai bahan komparasi yang mendukung hasil investigasinya atau dengan kata lain harus menggunakan sumber eksternal agar penelitiannya semakin valid dan mampu menjawab permasalahan secara menyeluruh (holistic).

Kesimpulannya secara umum suatu riset dilakukan untuk menjawab pertanyaan , dengan memberlakukan kriteria sebagai berikut :

1. Dilakukan dengan sebuah kerangka kerja

Kerangka kerja berkaitan dengan disiplin akademik dari pelaku riset dapat dinyatakan dalam dua kategori paradigma – positivism dan naturalism. Setiap bidang ilmu memiliki kerangka acuan sendiri dalam melakukan kegiatan riset. Kerangka kerja dan panduan tahapan itu akan menyediakan para periset, apa yang akan melibatkan periset dalam risetnya, dari bagaimana riset itu dilaksanakan, dan tipe macam apa gangguan yang akan mempengaruhi data yang dikumpulkan.

2. Menggunakan prosedur, metoda dan tehnik yang telah teruji dalam hal validitas dan reabilitas

Konsep validitas dapat di aplikasikan pada setiap aspek dari proses penelitian. Hal tersebut untuk meyakinkan bahwa di dalam riset prosedur yang benar (correct) telah digunakan untuk menjawab suatu pertanyaan sebagai titik tolak riset yang dilakukan.

Reliability merujuk pada kualitas dari prosedur pengukuran atau pengambilan data.

Unbiased dan objective memberikan pengertian bahwa setiap langkah yang diambil serta setiap konklusi yang diambil / ditarik mencerminkan kemampuan terbaik dari periset tanpa mengikutsertakan tujuan pribadi / golongan (vested interest) dari peneliti.

3. Dirancang agar tidak kabur (bias) dan objektif

Sedangkan subjectivity adalah bagian integral dari cara berfikir peneliti, yang terkondisi oleh latar belakang pendidikannya, disiplin ilmunya, filosofinya, pengalaman serta ketrampilannya, jadi diperlukan keterkaitannya dengan disiplin ilmu periset terhadap masalah apa yang diriset.

Bias dapat dinyatakan usaha untuk mempertimbangkan secara hati-hati baik dalam hal memberikan penekanan (highlight) maupun tidak menonjolkan / menyembunyikan (conceal) sesuatu. Misal dari suatu potongan informasi, maka cara pandang seorang psikolog akan lain tentunya dengan cara pandang sejarawan dsb.

Jadi, bila suatu kegiatan/proses untuk mencari jawaban pertanyaan memenuhi keempat kriterian tersebut diatas, maka proses tersebut dapat dinyatakan sebagai riset (research).

Namun demikian, ada variasi terhadap satu disiplin keilmuan terhadap disiplin ilmu lainnya dan dengan demikian pengertian riset adalah berbeda antara disiplin ilmu physical dan social science. Pada physical science, suatu usaha riset diharapkan setiap langkahnya dapat secara ketat dikontrol , sementara untuk ilmu sosial, kontrol yang kaku tidak mungkin dapat dipaksakan dan kadang malah tidak diperlukan dan terdapat subjektivitas.

Permasalahan sebagai inti riset

Pada dasarnya riset dapat dikatagorikan menjadi dua jenis:  basic research/penelitian dasar mengembangkan suatu teori atau konsep dalam bidang tertentu dan applied research/penelitian terapan berkaitan dengan suatu penerapan teori untuk mendapatkan perbandingan, hasil kinerja atau menghasilkan suatu produk yang membantu manusia.

Dalam kedua jenis riset tersebut, adalah penting untuk menentukan permasalahan yang akan dibahas dan diselesaikan. Permasalahan tersebut biasanya berupa pertanyaaan yang jawabannya memberikan hal baru yang berbeda dan permasalahan tersebut mengembangkan pengetahuan tentang sesuatu misalnya cara berpikir yang baru tentang sesuatu, kemungkin baru dalam penerapan atau membuka jalan bagi penelitian selanjutnya.  Permasalahan untuk riset haruslah mengandung interpretasi data yang merupakan hasil pemikiran si peneliti dalam mencari jawaban dari permasalahan dalam penelitiannya.

Permasalahan adalah pangkal (titik tolak) penelitian, tidak akan ada  riset kalau tidak ada masalah. Permasalahan adala segala sesuatu yang dihadapi atau dirasakan oleh seseorang yang menimbulkan kebutuhan untuk dibahas dan dicari jawabanya. Sumber permasalahan adalah sesuatu yang objektif, akan tetapi permasalahan selalu bersifat subjektif. Kejadian yang sama dapat menimbulkan persoalan yang berbeda dalam diri pengamat yang berbeda.

Bagan alir dibawah menggambarkan proses pembentukan, pengenalan dan penyelesaian persoalan. Proses bersifat mundur, berarti kalai perlu tiap langkah dijalani berulang sampai diperoleh cara pemecahan yang dapt diterima (notohadiprawiro 2006).

Ruang Lingkup Riset

Ruang lingkup sebuah riset secara umum dapat dibagi dalam tiga garis besar, sesuai dengan perpektifnya, yaitu :

  1. Aplikasi dari riset
  2. Objektif dari riset
  3. Informasi yang dicari

1. Aplikasi dari riset

Sesuai dengan perspektif dari aplikasi riset yang dilakukan, ada dua pembagian yaitu Riset murni (pure research) dan riset terapan (applied research). Sesuai dengan Bailey (1978) ; “Pure research involves developing and testing theories and hypotheses that are intellectually challenging to the researcher but may or may not have practical application at the present time or in the future. Thus such work often involves the testing of hypothesis containing very abstract and specialized concept”.

Riset murni juga meliputi pengembangan, pengujian, verifikasi dan memperjelas metode riset, prosedur, teknik dan alat yang membentuk metodologi riset itu sendiri.

Contoh jenis riset murni

  • Pengembangan suatu teknik sampling yang dapat diaplikasikan pada suatu situasi yang khusus
  • Pengembangan suatu instrument untuk mengukur tingkat ketegangan pada orang

Riset terapan adalah riset yang teknik, prosedur dan metodenya diaplikasikan pada pengumpulan informasi tentang berbagai aspek suatu situasi, isu, permasalahan atau penomena sehingga informasi yang terkumpul dapat di gunakan atau diaplikasikan.

Hampir semua riset dibidang ilmu sosial adalah riset terapan, karena dari pemahaman tentang penomena yang dihasilkan dari melakukan riset , dapat diterapkan pada formulasi kebijakan (policy) dan administrasi misalnya.

Tren penelitian terapan saat ini yang sering dilakukan adalah riset mengenai pola elektebilitas masyarakat saat pemilu parpol dan presiden.

2. Objektif dari riset

Sesuai dengan perspektif objektif dari riset, maka dapat dibedakan empat kategori riset , yaitu ; riset Descriptive , Exploratory, Corelational dan Explanatory.

Riset Descriptive adalah studi yang berusaha untuk menjelaskan secara sistematis suatu situasi, permasalahan, fenomena, pelayanan atau program, atau memberikan informasi tentang kondisi kehidupan suatu komunitas, atau menjelaskan sikap (attitude) yang diakibatkan oleh suatu isu dsb. Misal studi tentang ; “Bagaimana Perilaku Masyarakat petani Setelah muncuknya industri pertambangan dilokasi desa mereka”, atau Usaha untuk menjelaskan berbagai jenis fungsi alat – alat survey pemetaan, dsb.

Riset Explanatory adalah riset yang berusaha untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana adanya hubungan antara dua aspek dari suatu situasi atau fenomena. Contoh ; studi untuk menjelaskan mengapa pada topografi yang miring mengakibatkan banyak terjadi longsor.

Riset Correlational  adalah studi untuk menemukan atau menetapkan adanya suatu relationship / association / interdependence antara dua atau lebih aspek dari suatu situasi. Misal apakah pengaruh tutupan vegetasi terhadap zat terlarut dalam air sungai.

Riset Exploratory adalah studi yang menyelidiki tentang berbagai kemungkinan dilakukannya suatu studi khusus. Riset ini juga sering disebut feasibility study, atau pilot study , yang biasanya dilakukan bila periset ingin untuk meng explore bidang yang periset tersebut tidak mempunyai atau sedikit mempunyai pengetahuan (knowledge) tentang hal itu. Contohnya adalah studi kelayakan sebuah perusahaan tambang sebelum memulai produksi.

3. Informasi yang dicari

Pada jenis ini, dibedakan riset Qualitative dan riset Quantitative. Kalsifikasi kedua jenis riset tersebut bergantung pada tiga kriteria ;

  1. Maksud dari studi
  2. Dengan cara bagaimana variabel diukur
  3. Dengan cara bagaimana informasi dianalisa

Riset qualitative jika studi khususnya untuk menjelaskan suatu situasi, penomena, permasalahan atau kejadian dimana informasi dibentuk menggunakan variabel diukur dengan skala nominal atau ordinal atau skala pengukuran qualitative, dan jika dengan analisa dilakukan untuk membangun variasi dari situasi, penomena atau permasalahan tanpa meng quantitasikannya (without quantifying it) . Deskripsi tentang situasi yang terobservasi dari kondisi kehidupan komunitas, atau bagaimana opini / pendapat masyarakat terhadap suatu isu misalnya adalah dua contoh dari riset qualitative.

Riset quantitative jika informasi yang diperoleh dari studi tentang fenomena, sitauasi, permasalahan atau isu dibentuk utamanya dalam variabel-variabel quantitative dan jika analisa dimunculkan dalam magnitude dari variasinya.

Statistik adalah salah satu cara untuk meng-kuantitatif-kan magnitude dari asisiasi atau hubungan dan membentuk pengertian untuk mengisolasi efek dari berbagai variabel. Statistik juga berfungsi sebagai suatu tes untuk mengkonfirmasikan atau mengkontradiksikan konklusi yang telah ditarik berdasar pada pengertian yang dipahami dari analisa data.

Perlu ditegaskan disini bahwa janganlah terbelenggu dengan dikotomi quantitative dan qualitative ini dalam melakukan riset. Dalam banyak studi, penggunaan kedua jenis riset ini diperlukan bersama-sama. Memang ada bahwa disiplin ilmu seperti antropologi, sejarah dan sosiologi lebih cenderung ke riset qualitative. Sementara psychologi, epidemilogi, pendidikan, ekonomi , kesehatan dan market lebih cenderung ke riset quantitative. Kedua jenis riset tersebut tentu ada kelemahan dan kekuatannya , ada keuntungan dan ada pula kerugiannya. Misal contoh untuk studi tentang berbagai servis yang ada untuk membantu pemulihan trauma kerusuhan bulan Mei di Jakarta dan keberlanjutan servis tersebut, maka tentang servis adalah aspek qualitative , sementara tentang keberlanjutan adalah lebih baik dinyatakan dengan aspek quantitative karena menyangkut jumlah orang yang masih ingin dengan keberlanjutannya.

KARAKTERISTIK RISET

Dari definisi-definisi tersebut jelaslah bahwa riset adalah suatu proses untuk mengumpulkan, menganalisa dan menginterpretasikan informasi untuk menjawab pertanyaan. Tetapi untuk mengkualitaskannya sebagai riset, proses harus mempunyai karakteristik tertentu , yaitu harus, sejauh mungkin, terkontrol (controlled), pasti dan hati-hati (rigorous), sistematik (systematic), valid dan dapat diverifikasi (valid and verifiable) , empiris (empirical) serta kritis (critical).

Controlled : Dua konsep dari terkontrol memberikan bahwa di dalam mendalami hubungan kasual antara dua variable yang telah di tetapkan dalam riset study haruslah dengan jalan mengurangi efek factor yang lain terhadap hubungan-hubungan kedua variable tersebut. Ini dapat dilakukan , secara umum, pada physical sciences, karena umumnya riset bidang ini dilakukan di laboratorium. Namun demikian pada social sciences hal ini adalah sangat sulit, karena riset dilakukan pada berbagai isu yang berhubungan dengan kehidupan manusia di dalam masyarakat, dimana kontrol adalah tidak mungkin. Karena itu, di dalam ilmu social , factor-faktor external tidaklah dapat di kontrol , kecuali dengan dicoba mengkuantitakan akibat-akibatnya.

Rigorous : Harus jujur bahwa prosedur yang dilakukan untuk mencari jawab pertanyaan adalah relevant, appropriate, dan justified. Tentu saja tingkat rigorous ini akan berbeda pada ilmu social dan ilmu physics.

Systematic : Berarti bahwa prosedur yang diadopsi untuk melakukan investigasi harus mengikuti urutan logical yang tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan tidak boleh sebarang meloncat. Beberapa prosedur harus mengikuti prosedur yang lain.

Valid dan verifiable : Konsep ini memberikan bahwa apapun yang dapat disimpulkan pada temuan dari riset, haruslah correct dan dapat diverifikasi oleh periset maupun pihak lain.

Empirical Berarti setiap konklusi yang ditarik harus berdasar hard evidence yang dibentuk dari informasi yang dikumpulkan dari pengalaman kehidupan nyata atau observasi.

Critical : Pencermatan yang kritis dari prosedur yang digunakan serta metoda yang dipakai adalah krusial terhadap riset yang dilakukan. Proses investigasi harus tdak salah guna / jelas (foolproof ) dan bebas dari  kelemahan (drawback). Proses yang diadopsi dan juga prosedur yang dipakai harus mampu untuk bertahan terhadap kritik yang cermat.

Leedy (2005) mengemukakan ada 8 karakteristik riset,yaitu ;

1.  Riset berasal dari satu pertanyaan atau masalah:  dengan menanyakan pertanyaan kita sedang berupaya untuk stimulasi dimulainya proses penelitian. Sumber pertanyaan dapat berasal dari sekitar kita.

2.  Riset membutuhkan tujuan yang jelas : pernyataan tujuan ini menjawab pertanyaan : “ Masalah apa yang akan diselesaikan/dipecahkan?” tujuan  adalah pernyataan permasalahan yang akan dipecahkan dalam riset.

3.  Riset membutuhkan rencana spesifik: untuk melakukan penelitian rencana kegiatan disusun. Selain menetapkan tujuan dari riset, kita harus menetapkan juga bagaimana mencapai tujuan tersebut. Beberapa hal yang perlu  diputuskan misalnya: dimana mendapatkan data?  Bagaimana mengumpulkan data tersebut? Apakah data yang ada berelasi dengan permasalahan yang ditetapkan dalam riset?

4.  Riset biasanya membagi masalah prinsip menjadi beberapa sub-masalah: untuk mempermudah menjawab permasalahan, biasanya masalah yang prinsip dibagi menjadi beberapa sub masalah.

5.  Riset dilakukan berdasarkan masalah, pertanyaan atau hipotesis riset yang spesifik: Hipotesis adalah asumsi atau dugaan yang logis yang memberikan jawaban sementara tentang permasalahan riset berdasarkan penyelidikan awal. Hipotesis mengarahkan kita ke sumber-sumber informasi yang membantu kita untuk menyelesaikan dan menjawab permasalahan riset yang sudah ditetapkan. Hipotesis bisa lebih dari satu. Hipotesis mempunyai kemungkinan didukung atau tidak didukung oleh data. Jika suatu hipotesis tidak didukung oleh data, maka hipotesis itu

6.  Riset mengakui asumsi-asumi: Dalam riset, asumsi merupakan hal penting untuk ditetapkan. Asumsi  adalah kondisi yang ditetapkan sehingga jangkauan riset jelas batasnya. Asumsi juga bisa merupakan batasan sistem di mana kita melakukan riset.

7.  Riset membutuhkan data dan intepretasi data  untuk menyelesaikan masalah yang mendasari adanya riset:

Pentingnya data bergantung pada bagaimana peneliti memberi arti dan menarik inti sari dari data-data yang   tersedia. Di dalam riset data yang tidak diintepretasikan/diterjemahkan tidak berarti apapun.

  1. Riset bersifat siklus:  siklus dari riset dapat digambarkan seperti pada gambar dibawah ini.

Standart Riset

Setiap bidang ilmu atau oraganisasi memiliki standart riset masing-masing, sesuai dengan filosofi ilmu, kerangka kerja dan nilai-nilai yang ada di dalam organisasi. Sebagai contoh,standar riset dibawah ini adalah contoh standar riset yang dikeluarkan ITB sebagai organisasi, yaitu ;

  1. Mencangkup antara lain tentang standar kualitas fasilitas, kualitas pelaksana (track record), proses dan hasil riset serta dampak yang ditimbulkan.
  2. Publikasi adalah keharusan.
  3. Publikasi dalam jurnal internasional adalah keharusan untuk riset fundamental, sedangkan penerimaan masyarakat adalah keharusan bagi pengembangan teknologi.
  4. Perumusan standar umum (global) dan khusus yang disepakati oleh semua entiti dari berbagai kepakaran perlu dilakukan.

Publikasi Riset

Tren riset masa sekarang adalah publikasi, publikasi adalah suatu keharusan. Riset yang dihasilkan di rilis kedalam jurnal internasional. Hal ini akan mendatangkan beberapa keuntungan, selain tujuan utamanya adalah memberitahukan kepada masyarakat bahwa sudah ada suatu hasil riset yang mampu menjawab sebagian pertanyaan yang ada didalam masyrakat, namun juga akan mendatangkan dampak turunan seperti ; (1) publikasi akan langsung mengiklankan kompetensi periset, (2) publikasi akan memperluas span of benefit, span of reach dan span of influence dari riset dan perisetnya dan (3)  publikasi dapat  mendatangkan sponsor atau pemberi dana penelitian.

Sumber :

  • Leedy, Paul.D., Jeanne.E. Ormrod. Practical Research: Planning and Design aResearch Edisi 8 [2005]. Ohio : Pearson Merrill Prentice Hall.

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

Tag Cloud