Just another WordPress.com site

Studi Literatur

Terminologi & Definisi

Widawaty dan Lien dalam tulisannya mengutip sebuah kalimat dari buku yang ditulis Neuman. Disana dinyatakan bahwa

Scientific research is not an activity of isolated hermits who ignore others? Findings.

Rather, it is a collective effort of many researchers who share their results with one another and

who pursue knowledge as a community.? (Neuman, 1997, h.89)

Secara bebas saya artikan bahwa penelitian ilmiah bukanlah suatu kegiatan yang yang tertutup yang menolak intervensi lain di dalam aktivitasnya, namun adalah suatu kegiatan yang dilandaskan atas usaha bersama yang dilakukan oleh peneliti, mereka membagi dan menyebarkan hasil yang didapatkan dan mengambil informasi dari penelitian terdahulu, demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Pernyataan yang disampaikan oleh Neurman menunjukan bahwa setiap usaha baru ilmiah didasarkan atas usaha- usaha yang dilakukan sebelumnya, oleh karena itu sebuah masalah yang ingin diteliti bukanlah suatu masalah yang tak pernah diteliti oleh orang lain sebelumnya. Penelitian atau usaha ilmiah sebelumnya yang melandasi atau mensuggest penelitian yang terbaru dikenal dengan “literature”.

Literatur mampu memberikan keyakinan seorang periset dalam mendukung landasan berfikirnya, sangat membantu dalam memecahkan masalah-masalah yang ditemukan selama dalam riset. Prof Hasanudin dalam kuliahnnya (2011)  menyatakan bahwa literatur mencangkup seluruh proses dalam penelitian dan bersitat iteratif, artinya usaha untuk mencari justifikasi atas treatment bagaimana dan apa yang kita lakukan dalam tiap-tiap langkah penelitian dapat meyakinkan kita sebagai periset dan juga bisa dipertanggungjawabkan diluar. Namun demikian literature juga bias seperti pisau bermata dua, disatu sisi dapat mendukung periset dalam penelitiannya namun disisi yang lain periset dapat terombang ambing akibat banyaknya literature yang ada, sehingga kesulitan untuk memformulasikannya dalam bentuk tulisan. Prof Hasannudin meberikan solusi dalam hal ini bahwa perisetlah yang memegang kendali atas penelitiannya, landasan berfikir tetap sebagai guidelines dan jadikan literature hanya sebagai pendukung.

Didalam dunia penelitian padanan bagi literature dititik beratkan kepada “creative writing” atau tulisan ilmiah, bisa juga diartikan sebagai temuan-temuan ilmiah yang bersifat aplikatif dan dibukukan dalam bentuk tulisan. Kenapa harus dalam bentuk tulisan? Sebab sebuah usaha ilmiah harus memiliki dokumentasi agar dapat diketahui oleh khalayak banyak dan dapat dipelajari kembali. Sedangkan studi secara sederhana adalah sebuah usaha untuk mempelajari suatu objek.

Sehingga saya dapat mengartikan studi literature adalah usaha untuk mempelajari produk–produk temuan ilmiah yang didokumentasikan dalam bentuk tulisan, guna mendukung dan memperkuat argument dari penelitian baru atau penelitian lanjutan yang sedang kita lakukan.

Studi literature dapat diambil dari berbagai sumber, diantaranya adalah Text Book, jurnal ilmiah terbitan internasional maupun nasional, tugas akhir dari mahasiswa sarjana maupun pascasarjana dan media online seperti internet. Menurut prof Hasanuddin sumber yang paling valid sebagai literature adalah text book, karena semua materi dan tulisan di dalam text book yang bersangkutan sudah diuji dan di review oleh banyak ahli, juga sudah digunakan oleh para peneliti sebagai rujukan dalam penelitian mereka.

 

Urgensi Studi Literatur

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa studi literature diartikan sebagai usaha mencari referensi teori yang relevan dengan kasus yang sedang kita teliti. Sedangkan  Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan untuk menemukan jawaban suatu  permasalahan, dan yang tujuan akhirnya adalah memberikan kontribusi teoretis dan/atau  praktis pada pengembangan bidang ilmu yang bersangkutan.  Penemuan suatu penelitian bisa suatu hal yang baru, bisa juga konfirmasi penemuan terdahulu; bisa bersifat teoretis dan/atau praktis.  Kebaruan tersebut bisa dari segi  kerangka berpikir atau kerangka berpikir, metodologi, karakteristik subyek yang diteliti, dan/atau hasil penelitian.

Namun demikian salah satu ciri mendasar dari kegiatan ilmiah adalah bersifat sistematik, artinya dilakukan menurut system ilmu pengetahuan yang bersangkutan, dengan kata lain, suatu penelitian harus dilakukan menurut

cara-cara dan pengetahuan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan cara-cara dan pengetahuan yang sudah dikembangkan sebelumnya.  Karena itu, untuk dapat memberikan  sumbangan teoretis dan/atau praktis pada suatu atau beberapa disiplin ilmu secara  sistematik, peneliti harus mengetahui terlebih dahulu hal-hal apa saja yang sudah diketahui  mengenai suatu masalah, dan metode apa saja yang sudah dipakai untuk mengerti hal

tersebut; sebelum dia dapat mengetahui hal-hal apa saja yang masih perlu diteliti mengenai  masalah tersebut dan metode  apa yang tepat.  Pengetahuan ini hanya dapat diperoleh melalui studi literatur.  Inilai alasan dari urgensi dari sebuah literature dan posisinya dalam sebuah karya ilmiah.

Alasan lain adalah, dalam konstruksi suatu disiplin ilmu merupakan  usaha kolektif komunitas ilmuwan  yang bersangkutan, dan usaha kolektif ini terutama sekali dilakukan melalui kajian karya-karya sesama anggota. Dengan kata lain, usaha membangun ilmu pengetahuan baru dapat berlangsung  secara efektif dan efisien, bila periset mendasarkannya pada kajian literatur.   Melalui kajian  literatur, peneliti dapat terhindar dari melakukan penelitian hal-hal yang sudah pernah diteliti, pengembangan instrumen yang sudah pernah dibuat, dan pengulangan kesalahan-kesalahan masa lalu.  Peneliti juga dapat mengetahui penelitian-penelitian apa dan yang bagaimana  yang masih perlu dilakukan.  Dengan demikian, penelitian yang dilakukannya niscaya akan  senantiasa dapat memperkaya dan memperluas bangunan ilmu pengetahuan.

Dalam kasus-kasus tertentu studi literature lintas disiplin ilmu juga sering dilakukan, apabila penelitian yang dilakukan oleh periset memiliki irisan dan mengkaji sebahagian dari disiplin ilmu yang lainnya, untuk semakin mendukung bahan penelitiannya. Dengan melakukan komparasi lintas ilmu seperti ini, maka hasil riset akan semakin baik dan valid.

Studi Literatur dalam Setiap Tahap Penelitian

Seperti yang disebutkan diatas bahwa setiap tahapan dari kegiatan penelitian selalu melakukan studi literature. Secara umum tahapan penelitian mulai dari yang paling sederhana sampai yang kompleks, akan meliputi tahap-tahap seperti yang digambarkan berikut ini.

Pada gambar diatas digambarkan bahwa studi literature digunakan dalam ; merumuskan topik dan tujuan penelitian, mengembangkan kerangka berfikir, membuat rancangan penelitian, mengumpulkan data dan melakukan analisis dan interpretasi.

  • Merumuskan Topik dan tujuan

Merumuskan topik suatu penelitian  bisa datang dari sumber mana saja: observasi, diskusi, literatur; dari sponsor, dosen, dsb.  Dari mana pun sumbernya, peneliti harus mampu memberikan alasan pemilihan topiknya berdasarkan literatur.  Kenapa? karena literature mempunyai kelebihan dari segi ilmiah sehingga dapat lebih dipercaya, literatur juga membantu memaparkan konteks dan arti kepada penelitian tersebut.   Melalui kajian literatur, peneliti yang bersangkutan dapat menyatakan secara eksplisit, dan pembaca dapat melihat, mengapa hal yang ingin diteliti merupakan masalah yang memang harus diteliti, baik dari segi subyek yang akan diteliti dan lingkungannya, maupun dari sisi hubungan penelitian tersebut dengan  penelitian lain yang relevan.  Neuman (1997, h. 90).   Di samping itu, studi literatur juga bisa membantu peneliti memperjelas perumusan masalah dan tujuan penelitiannya.  Bukan hal yang baru pula bila kajian literatur membuat seseorang beralih topik dan/atau tujuan

  • Mengembangkan kerangka berfikir

Dalam kontek studi literature kerangka berfikir adalah cara pandang dan pemikiran, dari para ahli dan juga peneliti, tentang gejala yang diteliti: konsep atau variabel yang relevan (termasuk pengertiannya), dan hubungan antar-konsep.  Bagian ini adalah  untuk membantu peneliti secara lebih rinci melihat konteks penelitian, dan variabel-variabel yang terlibat; memutuskan tentang variabel-variabel mana saja yang akan menjadi perhatiannya beserta alasannya, dan  dalam pengertian yang bagaimana variabel-variabel itu akan diteliti.   Kerangka berpikir membantu peneliti untuk melihat masalah yang ditelitinya, dan mengidentifikasi serta mengembangkan konsep-konsep sentral dan kurang sentral, secara kontekstual dan proporsional.  Kerangka berpikir juga menghindarkan peneliti dari pengabaian dan/atau ketidaktahuan mengenai variabel-variabel yang sebetulnya berperanan besar. Selain itu, kerangka berpikir membantu peneliti di tahap-tahap selanjutnya, yaitu perumusan hipotesa (kalau ada), penentuan metode penelitian, pembuatan instrumen pengumpulan data, dan analisis data.  Neuman (1997, h.90)

  • Membuat rancangan penelitian

Peneliti menentukan rancangan penelitian yang paling tepat untuk mencapai tujuan penelitiannya, subyek penelitian yang paling sesuai, cara mengidentifikasi  dan menjaringnya, cara mengumpulkan data dan  informasi, dan cara mengelola dan mengolah data yang dikumpulkan. Selain buku-buku metodologi penelitian, peneliti juga perlu membaca laporan-laporan penelitian mengenai topik yang serupa ataupun penelitian dengan kelompok masyarakat yang serupa.  Laporan-laporan ini tidak jarang memuat pengalaman tentang metode dan instrumen yang digunakan, dan usulan tentang bagaimana penelitian yang serupa sebaiknya dilakukan di masa yang akan datang. Bahkan seringkali informasi mengenai teknik-teknik penelitian yang tidak umum dipakai justru pertama kali diperoleh peneliti dengan membaca laporan-laporan penelitian   Dengan cara ini, peneliti bukan hanya akan dapat menghindari pengulangan kesalahan penelitian-penelitian yang lalu, tetapi juga melakukan terobosan baru, dalam hal menjangkau subyek penelitian yang sulit dijangkau, mengukur konsep, dan mengeluarkan sebanyak mungkin informasi berharga dari data yang terkumpul (yaitu, misalnya, dengan teknik analisa data yang lebih mahir).

  • Mengumpulkan data, analisis dan intrepretasi data

Dalam penelitian kuantitatif, pengumpulan data dilakukan sesudah konsep, metode, dan instrumen pengumpulan data, dalam bentuk akhir.  Dengan perkataan lain,  penemuan di literatur yang kemudian tidak bisa merubah pengumpulan data yang sedang berlangsung.  Berbeda dengan penelitian kualitatif, pengumpulan data berlangsung secara simultan dengan analisis dan interpretasi data, dan pengembangan kerangka berpikir.  Supaya peneliti mengetahui dengan pasti kebenaran hasil penemuannya, hasil  analisis data sebaiknya dibandingkan dengan hasil kajian literatur, termasuk kerangka berpikir   yang dibuat.  Peneliti sebaiknya memeriksa apakah kenyataan yang dia temukan di lapangan mengenai variabel-variabel yang diteliti, dan hubungan antar-variabel, sesuai atau tidak dengan yang dipaparkan dalam kerangka berpikir tersebut.  Seandainya ditemukan hasil yang berbeda, studi literatur lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban mengenai hal-hal yang menjadi penyebabnya.

Mempersiapkan Studi Literatur

Persiapan studi literature pada dasarnya dibagi menjadi 2 jenis kegiatan, yaitu ; identifikasi bahan-bahan literatur yang relevan dengan penelitian dan mendokumentasikan keterangan bibliografi yang ditemukan pada tulisan-tulisan yang terdapat didalam literatur yang telah dibaca sebelumnya.

Dalam melakukan identifikasi banyak cara dan sarana yang bisa digunakan oleh periset, diantaranya yaitu catatan kaki atau bibliografi yang tercantum di dalam produk ilmiah tersebut, kemudian mengunjungi perpusatakaan untuk mencari sumber-sumber yang tercantum dalam bibliografi. Proses pencarian dapat dilakukan melalui katalog manual maupun komputer.

Dengan demikian, sumber-sumber informasi yang ditemukan bisa merupakan sumber langsung; dan juga sumber tidak langsung, yaitu berupa bibliografi, katalog, abstrak, indeks, alamat-alamat e-mail dan homepage, dsb.,  yang merujuk pada sumber langsung.  Sumber langsung untuk kegiatan ilmiah umumnya berupa jurnal ilmiah, buku, laporan penelitian, tesis dan disertasi, dokumen pemerintah; dalam bentuk tercetak maupun elektronik.

Setelah sumber-sumber literatur ditemukan periset akan memutuskan memanfaatkannya sebaik mungkin dengan cara memberikan catatan terhadap literatur tersebut. Ada 2 macam catatan, yaitu; catatan bibliografi sumber dan catatan isinya.(Widawaty dan Lien, 2006).

Sumber

  • Diao Ai Lien & Yunita Riris Widawaty (2006), Makalah : KEGUNAAN STUDI LITERATUR DALAM PENELITIAN SEKSUALITAS.
  • http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-5121-4201100038-bab3.pdf
  • Neuman, W.L. (1997).  Social research methods: qualitative and quantitative approach (3rd ed.).  London: Allyn and Bacon.
  • Catatan materi kuliah metode penelitian program pascasarjana geodesi dan geomatika oleh Prof Hasanudin (2011)
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: